Jakarta | Ameena Hanna Nur Atta, putri sulung Atta Halilintar dan Aurel Hermansyah yang kini berusia empat tahun, mengungkapkan perasaannya tentang perhatian sang ayah. Dalam perbincangan bersama kedua orang tuanya di sebuah podcast, Ameena mengatakan bahwa ia merasa Atta lebih sering membela adiknya, Azura. Pengakuan tersebut menjadi inti percakapan keluarga itu, sekaligus memperlihatkan cara Ameena menyampaikan pandangannya secara langsung kepada orang tuanya.
Perasaan Ameena itu berkaitan dengan hubungan dirinya, sang ayah, dan adiknya. Ia menilai bahwa ketika ada persoalan di mereka, Atta lebih sering berada di pihak Azura. Pernyataan tersebut disampaikan Ameena saat berbincang dengan Atta dan Aurel, bukan dalam pernyataan terpisah. Karena itu, momen tersebut menghadirkan gambaran tentang bagaimana seorang anak mengungkapkan apa yang ia rasakan kepada kedua orang tuanya.
Pengakuan itu juga menempatkan perhatian orang tua sebagai topik utama dalam percakapan. Ameena menyampaikan kesan bahwa ayahnya cenderung membela Azura, sementara Atta menegaskan bahwa dirinya tidak pilih kasih. Perbedaan perasaan yang disampaikan Ameena dan penegasan Atta menjadi bagian penting dari momen tersebut. Percakapan ini menunjukkan bahwa Ameena memiliki pandangan sendiri mengenai perlakuan ayahnya, dan ia menyampaikannya di hadapan kedua orang tuanya. Dalam konteks keluarga, ungkapan seperti itu memberi kesempatan bagi orang tua untuk mendengar cara anak memaknai hubungan dengan saudara dan ayahnya. Namun, keterangan yang tersedia hanya menyebutkan perasaan Ameena serta penegasan Atta, sehingga tidak perlu menarik kesimpulan lebih jauh mengenai kejadian tertentu atau kebiasaan keluarga mereka. Fokusnya tetap pada pengakuan Ameena dalam podcast: ia merasa ayahnya lebih sering membela Azura, adiknya, sedangkan Atta menyatakan bahwa dirinya tidak membeda-bedakan kedua putrinya. Momen sederhana dalam percakapan itu pun menjadi sorotan karena menghadirkan suara Ameena secara langsung mengenai perasaannya di dalam keluarga.Curahan hati Ameena menjadi sorotan setelah sebuah potongan video percakapan keluarga beredar luas di media sosial. Dalam percakapan yang ditampilkan, Ameena menyampaikan perasaannya bahwa ia cukup sering dimarahi. Ia juga merasa adiknya, Azura, lebih dahulu mendapat pembelaan dan pelukan ketika terjadi situasi yang melibatkan keduanya. Ungkapan tersebut memperlihatkan sudut pandang seorang anak yang ingin didengar dan memperoleh perhatian, bukan sekadar memperdebatkan siapa yang benar dalam suatu kejadian.
Perasaan Ameena itu kemudian mengundang perhatian karena menyentuh dinamika hubungan kakak dan adik. Bagi sebagian penonton, ceritanya menggambarkan kecemburuan atau rasa tidak adil yang mungkin muncul ketika perhatian orang tua terlihat berbeda. Namun, video singkat tidak selalu menampilkan keseluruhan konteks, sehingga respons yang muncul juga perlu mempertimbangkan keterbatasan potongan percakapan. Tidak ada keterangan lain mengenai waktu atau tempat kejadian yang dapat dipastikan dari informasi yang beredar. Percakapan tersebut dicantumkan sebagai kutipan pada Minggu, 8 November 2026.
Setelah tersebar, video itu memicu beragam reaksi warganet. Sebagian menyampaikan simpati kepada Ameena dan menilai perasaannya patut didengarkan, sementara yang lain mengkritik Atta serta mempertanyakan cara ia merespons kedua anaknya. Ada pula pengguna media sosial yang mengingatkan agar satu cuplikan tidak dijadikan dasar untuk menyimpulkan pola pengasuhan secara menyeluruh. Perbincangan ini menunjukkan bahwa persoalan perhatian yang dirasakan anak mudah menjadi diskusi publik, terutama ketika terekam dan dibagikan secara luas. Di tengah berbagai pendapat tersebut, inti keluhan Ameena tetap berkisar pada pengalaman merasa lebih sering dimarahi dibandingkan Azura, serta harapannya agar perhatian dan kasih sayang diberikan secara adil kepada keduanya. Reaksi publik pun beragam, mulai dari empati hingga kritik, tanpa adanya satu kesimpulan yang dapat ditarik hanya dari video tersebut.
Menanggapi perbincangan yang muncul setelah sebuah video ramai dibicarakan, Atta Halilintar menyampaikan penjelasan melalui unggahan panjang di akun Instagram pribadinya. Ia merespons anggapan yang berkembang mengenai perlakuannya terhadap Ameena dan Azura, dua putrinya. Dalam keterangannya, Atta menegaskan bahwa rasa sayangnya kepada kedua anak tersebut sama besar. Ia juga menyatakan tidak memiliki niat untuk membeda-bedakan keduanya.
Penjelasan itu disampaikan setelah sejumlah warganet memperhatikan video tersebut dan menyampaikan beragam pandangan. Perhatian publik kemudian mengarah pada dugaan bahwa salah satu anak mendapat perlakuan berbeda. Atta memberi konteks mengenai perasaannya sebagai ayah, sekaligus menegaskan bahwa ia tidak bermaksud membandingkan Ameena dengan Azura. Pernyataan tersebut menjadi tanggapannya terhadap pembicaraan yang sedang berlangsung, bukan pengakuan bahwa ia sengaja memberikan perhatian yang tidak seimbang.
Dalam unggahan itu, Atta juga menekankan bahwa kasih sayang kepada kedua putrinya tidak dapat diukur dari satu momen yang terekam dalam video. Setiap anak memiliki karakter dan kebutuhan masing-masing, sementara cara orang tua berinteraksi dapat terlihat berbeda dalam situasi tertentu. Namun, ia menyampaikan bahwa perbedaan yang mungkin tampak tersebut bukan berarti ia memilih kasih. Ia menggarisbawahi bahwa Ameena dan Azura sama-sama disayangi, tanpa bermaksud menempatkan salah satunya di atas yang lain.
Respons Atta pun menjadi bagian dari perbincangan lanjutan mengenai video tersebut. Unggahan panjangnya memuat penegasan tentang hubungan dan kasih sayangnya kepada kedua anak, serta bantahan terhadap anggapan bahwa ia membandingkan mereka. Di sisi lain, komentar publik dan interpretasi terhadap video dapat beragam. Karena itu, penjelasan Atta dapat dipahami sebagai sikap yang ia sampaikan secara langsung, tanpa otomatis meniadakan kritik atau mengakhiri perdebatan yang telah muncul di media sosial.
Atta Halilintar menyadari bahwa dirinya belum menjadi sosok ayah yang sempurna. Ia mengakui masih memiliki kekurangan dalam menjalankan peran tersebut dan menyampaikan permohonan maaf atas hal-hal yang mungkin belum dapat ia lakukan dengan baik. Pengakuan itu menunjukkan bahwa ia tidak memandang peran sebagai orang tua sebagai sesuatu yang selesai begitu saja, melainkan tanggung jawab yang perlu terus dijalani dan diperbaiki.
Menurut Atta, menjadi ayah bukan hanya tentang memberikan kasih sayang kepada anak. Ada tanggung jawab lain yang juga perlu diperhatikan, yakni menjaga, mendidik, serta membimbing mereka dalam proses tumbuh kembang. Ia memahami bahwa setiap anak membutuhkan kehadiran orang tua yang dapat memberi perhatian sekaligus membantu mereka mengenal nilai-nilai yang baik. Karena itu, ia berupaya menjalankan perannya dengan lebih baik dari waktu ke waktu.
Atta juga menyatakan keinginannya untuk terus belajar menjadi ayah yang lebih baik. Ia tidak menutup mata terhadap kekurangan yang ada, tetapi ingin menjadikannya sebagai dorongan untuk berkembang. Dalam proses tersebut, ia berusaha memahami kebutuhan anak-anaknya dan menjalankan tanggung jawabnya dengan penuh perhatian. Sikap ini menjadi bagian dari upayanya untuk hadir bagi Ameena dan Azura, bukan hanya dengan kasih sayang, tetapi juga melalui perlindungan, pendidikan, dan bimbingan.
Harapan Atta untuk kedua putrinya adalah agar Ameena dan Azura tumbuh dengan sehat, cerdas, serta memiliki akhlak yang mulia. Ia juga berharap mereka dapat menjalani kehidupan dengan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat. Harapan tersebut berjalan seiring dengan tekadnya untuk terus belajar dan memperbaiki diri sebagai ayah. Dengan mengakui keterbatasannya, meminta maaf atas kekurangan, dan tetap berusaha memenuhi tanggung jawabnya, Atta menyampaikan bahwa ia ingin mendampingi anak-anaknya dalam perjalanan mereka menuju masa depan.
Baca juga: PB SEMMI 2026–2029 Tegaskan Komitmen Persatuan dan Etika Organisasi | Ombudsman Tegaskan Pengunduran Diri Dirjen Pemasyarakatan Merupakan Urusan Internal Kementerian | Bobby Nasution Tegaskan Tetap Bersama Gerindra Setelah Sekali Berpindah Partai
10 kunjungan