Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi pertama perdagangan Senin, 26 Oktober 2026, di zona merah. Indeks turun 52,28 poin atau sekitar 1% ke level 5.384,97. Pelemahan ini menunjukkan bahwa tekanan jual masih membayangi pergerakan pasar saham domestik hingga jeda perdagangan siang. Dibandingkan posisi penutupan sebelumnya, IHSG kehilangan sebagian nilainya, meskipun sepanjang sesi indeks sempat bergerak naik dan turun dalam rentang yang cukup lebar.
Selama perdagangan pagi hingga siang, IHSG bergerak di kisaran 5.349 sampai 5.453. Rentang tersebut memperlihatkan adanya fluktuasi selama sesi berlangsung, sebelum indeks akhirnya ditutup sementara pada level 5.384,97. Posisi penutupan itu berada lebih dekat ke batas bawah rentang perdagangan, sejalan dengan pelemahan yang tercatat pada akhir sesi pertama. Pergerakan indeks tersebut menjadi gambaran kondisi pasar secara keseluruhan, bukan kinerja satu saham atau satu sektor tertentu saja.
Aktivitas transaksi di Bursa Efek Indonesia tercatat mencapai volume 18,57 miliar saham dengan nilai transaksi sebesar Rp 7,59 triliun. Sepanjang sesi pertama, perdagangan berlangsung sebanyak 1.143.355 kali. Angka-angka tersebut menggambarkan ramainya aktivitas jual beli saham pada paruh pertama hari perdagangan, sementara IHSG tetap bergerak melemah. Dengan demikian, tingginya frekuensi transaksi tidak serta-merta mendorong indeks ke zona positif.
Pelemahan IHSG terjadi di tengah mayoritas saham yang mengalami penurunan. Kondisi itu menandakan tekanan pasar tersebar pada banyak saham, sehingga kenaikan pada sejumlah emiten belum cukup untuk mengimbangi kontribusi saham-saham yang terkoreksi. Indeks yang turun 1% pada sesi pertama memberi indikasi bahwa sentimen pasar saat itu cenderung negatif. Investor dapat mencermati perubahan arah indeks pada sesi berikutnya, termasuk perkembangan jumlah saham yang menguat dan melemah serta nilai transaksi, untuk memperoleh gambaran lanjutan mengenai dinamika perdagangan hari tersebut.
Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan pada sesi pertama tercermin dari luasnya tekanan di pasar saham. Sebanyak 474 saham tercatat turun, jauh lebih banyak dibandingkan 189 saham yang menguat. Sementara itu, 129 saham bergerak stagnan. Komposisi tersebut menunjukkan bahwa koreksi tidak hanya terjadi pada sejumlah saham berkapitalisasi besar, tetapi juga menjangkau banyak emiten di berbagai kelompok perdagangan. Meski jumlah saham yang naik tetap cukup besar, dominasi saham yang melemah memperlihatkan sentimen negatif yang relatif merata sepanjang sesi.
Tekanan juga terlihat pada indeks saham unggulan. Indeks LQ45 terkoreksi 0,95%, menandakan bahwa saham-saham dengan likuiditas tinggi dan kapitalisasi pasar besar turut mengalami penurunan. Pada saat yang sama, seluruh sektor saham berakhir di zona merah. Kondisi ini memperluas gambaran pelemahan pasar, sebab tidak ada sektor yang mampu mencatat penguatan pada sesi tersebut. Dengan demikian, koreksi IHSG berlangsung bersamaan dengan penurunan lintas sektor, meskipun tingkat penurunannya berbeda-beda.
Sektor teknologi mencatat penurunan terdalam, yakni 2,21%. Berikutnya, sektor infrastruktur melemah 1,6%. Sektor kesehatan terkoreksi 1,22%, sedangkan sektor perindustrian turun 1,2%. Sektor transportasi juga tertekan dengan penurunan 1,18%. Data tersebut memperlihatkan bahwa tekanan paling kuat terkonsentrasi pada teknologi dan infrastruktur, sementara sektor kesehatan, perindustrian, serta transportasi mencatat koreksi yang relatif berdekatan. Namun, pelemahan tetap meliputi seluruh sektor, sehingga tidak terdapat kelompok industri yang menjadi penopang kenaikan indeks pada sesi pertama.
Perbedaan besaran koreksi antarsektor dapat menjadi perhatian bagi investor dalam menilai pergerakan pasar berikutnya. Jumlah saham yang turun, posisi LQ45, serta kinerja masing-masing sektor memberi gambaran mengenai keluasan tekanan, bukan sekadar perubahan angka IHSG. Investor dapat mencermati apakah tekanan jual tetap meluas atau mulai menyempit pada sesi perdagangan selanjutnya, sekaligus mengikuti perkembangan saham individual yang bergerak berlawanan dengan kecenderungan pasar. Meski demikian, data sesi pertama ini hanya menggambarkan kondisi perdagangan pada periode tersebut dan belum memastikan arah pasar untuk keseluruhan hari.
Di tengah pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pertama perdagangan, sejumlah saham justru bergerak berlawanan arah dan mencatat kenaikan tajam. Lima emiten masuk dalam jajaran saham dengan penguatan tertinggi setelah masing-masing membukukan kenaikan harga lebih dari 17%. Pergerakan ini menunjukkan bahwa tekanan pada indeks tidak serta-merta diikuti oleh seluruh saham di pasar.
PT Andira Agro Tbk (ANDI) memimpin daftar tersebut. Saham ANDI naik 21,43% hingga mencapai Rp 34 per saham. Posisi berikutnya ditempati PT Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK), yang menguat 18,18% ke level Rp 13 per saham. Sementara itu, PT Pembangunan Graha Lestari Indah Tbk (PGLI) mencatat kenaikan 17,81% dan diperdagangkan pada harga Rp 344 per saham.
Dua saham lainnya juga membukukan penguatan di atas 17%. PT Semacom Integrated Tbk (SEMA) bertambah 17,65% ke Rp 440 per saham. Adapun PT Perdana Bangun Pusaka Tbk (KONI) meningkat 17,56% hingga mencapai Rp 1.975 per saham. Dengan kenaikan tersebut, kelima emiten menjadi sorotan di saham-saham yang bergerak positif pada sesi pertama.
Perbedaan arah penguatan saham-saham tersebut dan koreksi IHSG menggambarkan pergerakan pasar yang tidak seragam. Kinerja indeks mencerminkan gabungan pergerakan berbagai saham, sedangkan harga setiap emiten dapat berubah dengan dinamika tersendiri. Karena itu, kenaikan persentase pada sesi tertentu tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab perubahan harga ataupun menjamin tren akan berlanjut. Investor dapat mencermati informasi perdagangan dan keterbukaan masing-masing perusahaan untuk memahami konteks pergerakan, sekaligus mempertimbangkan risiko sebelum mengambil keputusan. Data harga dan persentase di atas merujuk pada perdagangan sesi pertama, sehingga dapat berubah pada sesi berikutnya.Di tengah penguatan sejumlah saham, tekanan juga terlihat pada kelompok saham yang mengalami penurunan tajam. Sebanyak 13 saham tercatat mencapai batas auto rejection bawah (ARB) dan masuk dalam daftar top losers pada perdagangan sesi tersebut. ARB merupakan batas penurunan harga yang ditetapkan dalam mekanisme perdagangan bursa. Karena itu, saham yang menyentuh batas ini menunjukkan tekanan jual yang telah mencapai ambang yang berlaku, meskipun data tersebut tidak dengan sendirinya menjelaskan penyebab pelemahannya.
Salah satu saham yang tercatat melemah adalah PT Bank Permata Tbk (BNLI). Saham BNLI turun 6,96% dan ditutup pada level Rp 1.605. PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RLCO) juga berada dalam daftar saham yang tertekan, dengan penurunan sebesar 6,93% ke Rp 2.820. Kedua emiten tersebut menjadi contoh saham yang mengalami koreksi besar dalam perdagangan hari itu. Selain BNLI dan RLCO, sumber perdagangan turut menyebut pelemahan saham PT Pudjiadi. Namun, informasi yang tersedia terpotong setelah penyebutan tersebut, sehingga besaran penurunan maupun harga sahamnya tidak dapat dipastikan dan tidak dicantumkan di sini.
Pergerakan pasar di kawasan Asia menunjukkan arah yang beragam. Shanghai turun 0,07%, sedangkan Straits Times Singapura melemah 0,3%. Nikkei Jepang juga terkoreksi 0,11%. Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong bergerak berlawanan arah dan menguat 0,61%. Perbedaan arah indeks tersebut menggambarkan bahwa tekanan yang terjadi tidak seragam di seluruh bursa regional pada sesi yang sama. Angka-angka ini memberi konteks bagi perdagangan domestik, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa pergerakan indeks luar negeri secara langsung menyebabkan saham-saham Indonesia menyentuh ARB.






