KOTA SORONG, PAPUA BARAT DAYA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 3 Oktober 2026, Pimpinan Cabang Lembaga Dakwah Islam Indonesia (PC LDII) Tanjung Priok menyerahkan kunci rumah hasil program bedah rumah dhuafa kepada Suhud, warga berusia 69 tahun. Serah terima tersebut berlangsung pada Sabtu, 3 Oktober 2026, di kediaman Suhud yang berlokasi di Warakas 1 Gang 13 Nomor 49, RT 12/03, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
Rumah milik Suhud direnovasi selama sebulan melalui program sosial yang digagas untuk membantu masyarakat kurang mampu memperoleh hunian yang lebih layak. Setelah proses perbaikan selesai, tempat tinggal tersebut diharapkan dapat memberikan perlindungan yang lebih baik sekaligus mendukung kenyamanan Suhud dalam menjalani aktivitas sehari-hari.
Penyerahan kunci menjadi penanda berakhirnya rangkaian renovasi dan dimulainya pemanfaatan rumah yang telah diperbaiki. Sejumlah bagian hunian ditata kembali agar kondisinya lebih aman, sehat, dan sesuai untuk ditempati. Upaya ini juga menunjukkan perhatian terhadap kebutuhan dasar warga, khususnya kelompok dhuafa yang menghadapi keterbatasan untuk memperbaiki rumah secara mandiri.
Bagi Suhud, bantuan tersebut bukan hanya menghadirkan perubahan pada bangunan, melainkan juga memberikan rasa aman dan ketenangan. Hunian yang lebih kokoh dan nyaman dapat membantu meningkatkan kualitas hidup penerimanya. Program bedah rumah dhuafa PC LDII Tanjung Priok diharapkan menjadi bentuk kepedulian sosial yang manfaatnya dirasakan secara langsung oleh warga.
Melalui kegiatan itu, PC LDII Tanjung Priok menegaskan komitmennya untuk berkontribusi di lingkungan sekitar. Pembangunan atau renovasi rumah bagi masyarakat kurang mampu menjadi salah satu bentuk gotong royong yang menyatukan berbagai pihak. Dengan dukungan berkelanjutan, program serupa diharapkan dapat menjangkau lebih banyak keluarga yang membutuhkan tempat tinggal layak, aman, dan nyaman di wilayah Tanjung Priok.
Sebelum renovasi dilakukan, rumah yang ditempati Suhud berada dalam kondisi tidak layak huni. Hunian tersebut belum mampu memberikan rasa aman dan kenyamanan yang memadai bagi penghuninya. Keadaan ini menjadi perhatian dalam pelaksanaan program sosial LDII, terutama karena rumah merupakan tempat penting bagi seseorang untuk menjalani kegiatan sehari-hari dan beristirahat.
Dalam kesehariannya, Suhud lebih banyak menggunakan waktunya untuk beribadah. Aktivitas tersebut menjadi bagian utama dari rutinitasnya. Di tengah kehidupan yang sederhana, ia tetap menjalankan kegiatan keagamaannya, meskipun harus tinggal di rumah yang kondisinya belum layak. Fakta tersebut turut menjadi latar belakang perhatian terhadap tempat tinggal yang selama ini digunakannya.
Melalui program sosial LDII, rumah Suhud kemudian direnovasi. Renovasi ini diarahkan untuk memperbaiki kondisi hunian agar dapat digunakan dengan lebih baik. Pelaksanaannya mencerminkan kepedulian sosial terhadap warga yang membutuhkan tempat tinggal yang lebih memadai, sekaligus menunjukkan bahwa perhatian terhadap kebutuhan dasar dapat diwujudkan melalui kegiatan bersama.
Setelah renovasi selesai, rumah tersebut berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman bagi Suhud. Perubahan ini memberikan perbaikan berarti dibandingkan kondisi sebelumnya yang tidak layak huni. Rumah yang telah direnovasi diharapkan dapat mendukung keseharian Suhud, termasuk ketika ia menjalankan ibadah dan beristirahat. Hasil tersebut menjadi bagian penting dari manfaat program sosial LDII bagi penerima renovasi.
Perubahan kondisi hunian Suhud juga memperlihatkan dampak langsung dari kepedulian masyarakat melalui program sosial. Dari rumah yang sebelumnya belum layak ditempati, kini tersedia tempat tinggal yang lebih mendukung kebutuhan penghuninya. Penyerahan rumah hasil renovasi kepada Suhud menandai terwujudnya upaya untuk menghadirkan lingkungan tempat tinggal yang lebih baik, tanpa mengubah kesederhanaan kehidupan sehari-harinya.
Kegiatan bedah rumah yang dilakukan LDII Tanjung Priok dipandang bukan sekadar upaya memperbaiki kondisi tempat tinggal, melainkan wujud kepedulian sosial yang menghadirkan manfaat secara langsung. Para pengurus LDII menilai kegiatan tersebut mencerminkan perhatian terhadap kebutuhan masyarakat melalui langkah nyata. Rumah hasil renovasi yang diserahkan kepada Suhud menjadi gambaran bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui kerja bersama dan tindakan yang dirasakan langsung oleh penerima manfaat.
Dewan Penasehat DPD LDII Jakarta Utara, KH Usman Hadi Wibowo, menyebut bedah rumah sebagai penerapan nilai Islam melalui tindakan nyata dan manfaat langsung bagi masyarakat. Menurutnya, nilai-nilai Islam tidak berhenti pada pemahaman atau nasihat, tetapi juga perlu diwujudkan dalam kepedulian yang memberikan manfaat kepada sesama. Renovasi rumah tersebut menjadi bentuk nyata dari penerapan nilai itu dalam kehidupan bermasyarakat.
Ketua PC LDII Tanjung Priok, Didik Fauzan, S.H., menjelaskan bahwa kegiatan ini menunjukkan kerukunan, kebersamaan, dan solidaritas sosial warga LDII. Proses bedah rumah memperlihatkan adanya semangat untuk saling membantu serta memperkuat kepedulian di warga. Nilai kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan, sehingga bantuan yang diberikan tidak hanya berupa hasil renovasi, tetapi juga mencerminkan kepedulian bersama.
Sementara itu, Ketua PAC LDII Warakas, H. Ar Bahronsyah, memandang hunian layak sebagai fondasi untuk membangun masyarakat yang baik dan bangsa yang kuat. Tempat tinggal yang layak menjadi dasar penting dalam kehidupan masyarakat. Karena itu, perhatian terhadap kondisi hunian memiliki makna sosial yang mendukung terbentuknya masyarakat yang baik serta bangsa yang kuat. Pandangan para pengurus tersebut menegaskan bahwa kegiatan ini memiliki arti penting sebagai bentuk kepedulian sosial warga LDII.
Kegiatan serah terima rumah hasil renovasi kepada Suhud turut dihadiri unsur lingkungan dan tokoh masyarakat setempat. Kehadiran Ketua RT, Ketua RW, Lembaga Musyawarah Kelurahan (LMK), serta para tokoh masyarakat menunjukkan bahwa program tersebut mendapat perhatian dari berbagai elemen warga. Mereka menyaksikan secara langsung penyerahan rumah yang telah diperbaiki sebagai bentuk dukungan terhadap peningkatan kualitas hunian dan kehidupan penerima manfaat.
Dari jajaran LDII, hadir KH Usman Hadi Wibowo, Didik Fauzan, S.H., dan H. Ar Bahronsyah. Keterlibatan para pengurus dan tokoh organisasi itu memperlihatkan bahwa proses renovasi tidak berhenti pada pelaksanaan pembangunan, tetapi juga disertai tanggung jawab sosial serta hubungan yang baik dengan lingkungan. Kolaborasi organisasi, aparatur kewilayahan, dan masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat diterima secara tepat dan memberikan manfaat bagi keluarga Suhud.
Sekretaris RW 03, Bayu Gandamanah, menyampaikan apresiasi atas bantuan tersebut. Menurutnya, renovasi rumah bagi warga yang membutuhkan merupakan wujud kepedulian sosial yang nyata. Ia juga menilai kegiatan itu dapat menjadi teladan bagi aparatur agar semakin meningkatkan perhatian terhadap kondisi warga di lingkungannya. Apresiasi tersebut menguatkan pentingnya kepedulian bersama dalam menjawab kebutuhan masyarakat, terutama dalam aspek tempat tinggal yang layak.
Program bedah rumah dhuafa ini merupakan bagian dari kontribusi sosial LDII melalui pendekatan profesional religius. Kegiatan tersebut mencerminkan upaya untuk menerapkan nilai keagamaan dalam bentuk pelayanan yang terencana, bertanggung jawab, dan berdampak langsung. Dalam kerangka pengabdian LDII untuk bangsa, program bedah rumah dhuafa termasuk salah satu dari delapan klaster pengabdian. Melalui kegiatan semacam ini, kepedulian kepada warga diwujudkan melalui kerja sama yang melibatkan unsur organisasi, lingkungan, dan masyarakat secara berkelanjutan.

