Kabupaten Kutai Timur | PT Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA) telah menyelesaikan pembangunan Underpass Inul, yang juga dikenal sebagai Inul Lignite, di Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur. Proyek ini digagas oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) bersama Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur untuk mendukung pemisahan jalur warga dan kendaraan angkutan batu bara. Penyelesaian tersebut tercapai lebih cepat daripada jadwal yang ditetapkan. Semula, pekerjaan ditargetkan rampung pada akhir Desember 2026, tetapi WIKA menyelesaikannya dua bulan lebih awal. Tidak ada tanggal penyelesaian spesifik yang dicantumkan dalam informasi proyek yang tersedia.
Rampungnya underpass menjadi penanda selesainya pekerjaan infrastruktur yang berada di kawasan dengan aktivitas masyarakat dan lalu lintas tambang. Sebelum fasilitas ini dibangun, pergerakan warga dan kendaraan pengangkut batu bara di area tersebut perlu dikelola pada jalur yang berdekatan. Kehadiran lintasan bawah tanah ini dirancang untuk memisahkan kedua arus perjalanan, sehingga pengguna jalan umum dan kendaraan operasional tambang dapat melintas melalui jalur masing-masing. Dengan demikian, proyek di Bengalon tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga penataan akses di kawasan yang memiliki kegiatan transportasi dan ekonomi yang berjalan bersamaan.
Percepatan penyelesaian hingga dua bulan dari target awal menunjukkan bahwa pekerjaan dapat dituntaskan sebelum tenggat yang direncanakan. Namun, informasi mengenai selesainya pembangunan tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh tahapan berikutnya, seperti jadwal pembukaan untuk umum, pengaturan lalu lintas, atau pemeliharaan fasilitas. Hal-hal tersebut memerlukan keterangan tersendiri dari pihak terkait. Untuk saat ini, pokok kabar proyek adalah bahwa WIKA telah menuntaskan pembangunan Underpass Inul di Kutai Timur, melalui kerja sama yang melibatkan KPC dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk menyediakan pemisahan jalur warga dan truk batu bara di Kecamatan Bengalon, dengan target awal akhir Desember 2026 berhasil dilampaui lebih cepat dua bulan.
Underpass Inul dirancang untuk memisahkan Jalan Nasional Sangatta–Simpang Perdau dari jalur angkutan batu bara milik KPC. Pemisahan ini menjadi fungsi utama fasilitas tersebut karena kedua jalur sebelumnya bertemu pada satu titik persimpangan. Akibatnya, kendaraan warga yang melintas di jalan nasional dan truk pengangkut batu bara harus melewati area yang sama, sehingga pergerakan lalu lintas keduanya saling berpotongan. Dengan dibangunnya underpass, jalur masing-masing dapat berlangsung pada ketinggian berbeda tanpa perlu berbagi bidang persimpangan.
Sebelum underpass tersedia, pengendara yang menggunakan jalan nasional berhadapan dengan kendaraan tambang yang melintas pada jalur operasionalnya. Persilangan langsung seperti itu membuat titik tersebut memerlukan perhatian ekstra dari pengguna jalan, terutama ketika arus kendaraan berlangsung bersamaan. Kini, akses jalan nasional tetap menjadi jalur bagi mobilitas masyarakat, sementara truk batu bara dapat melanjutkan perjalanan melalui lintasan yang telah dipisahkan. Pengaturan ini membantu mengurangi konflik pergerakan di persimpangan dan menjadikan hubungan antarrute lebih tertata.
Struktur utama underpass menggunakan jembatan PCI girder dengan satu bentang sepanjang 40 meter. Bentang tersebut memungkinkan satu jalur melintas di atas jalur lainnya, sehingga kendaraan warga dan kendaraan tambang dapat bergerak pada waktu yang sama tanpa saling bersilangan. Dengan demikian, pengguna jalan nasional tidak perlu menunggu truk batu bara melintas di titik perpotongan yang sama, dan operasional angkutan tambang juga tidak harus menghentikan arus warga karena pertemuan jalur. Pemisahan secara fisik ini mendukung kelancaran perjalanan kedua kelompok pengguna, sekaligus memperjelas fungsi setiap lintasan. Jalan nasional melayani perjalanan masyarakat dan lalu lintas umum, sedangkan jalur khusus tetap digunakan untuk kegiatan angkutan batu bara. Keberadaan underpass pun mengubah pola pergerakan di lokasi tersebut dari persimpangan sebidang menjadi lintasan terpisah. Manfaatnya terletak pada berkurangnya pertemuan langsung kendaraan dengan karakteristik dan kebutuhan perjalanan yang berbeda, tanpa mengharuskan salah satu arus berhenti untuk memberi jalan kepada arus lainnya.
Direktur Operasi I WIKA, Hananto Aji, menyampaikan bahwa pembangunan underpass Inul merupakan bagian dari kontribusi perusahaan dalam menghadirkan infrastruktur yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Di saat yang sama, fasilitas tersebut dirancang untuk menunjang kegiatan industri di Kutai Timur. Pemisahan jalur warga dan kendaraan operasional pertambangan diharapkan membuat mobilitas di sekitar kawasan lebih tertata, tanpa mengabaikan kebutuhan pengguna jalan maupun kelancaran aktivitas produksi. Dengan demikian, pembangunan ini menghubungkan kepentingan keselamatan publik dengan dukungan terhadap kegiatan ekonomi setempat. WIKA memandang keduanya sebagai kebutuhan yang perlu dipenuhi melalui penyediaan prasarana yang memadai dan berfungsi secara berkelanjutan.
Hananto menjelaskan, koordinasi WIKA, KPC, dan pemerintah daerah selama pekerjaan berlangsung turut mendukung penyelesaian proyek lebih awal dari jadwal. Kerja sama tersebut membantu para pihak menyelaraskan pelaksanaan pekerjaan dengan kebutuhan operasional serta kondisi di lapangan. Koordinasi yang berjalan selama proyek juga menjadi ruang untuk menjaga komunikasi antarpihak, sehingga tahapan pembangunan dapat dilaksanakan secara terarah. Dalam proyek yang berkaitan dengan akses masyarakat dan aktivitas pertambangan, keterlibatan pemangku kepentingan diperlukan agar pekerjaan dapat berjalan dengan memperhatikan kepentingan bersama. WIKA menilai dukungan dan kolaborasi tersebut berperan dalam menjaga proses pembangunan hingga fasilitas siap digunakan.
Tujuan utama pembangunan, menurut Hananto, adalah menghadirkan akses yang lebih aman bagi warga sekaligus menjaga kelancaran operasional pertambangan. Underpass memungkinkan arus perjalanan masyarakat dan pergerakan truk batu bara menggunakan jalur yang terpisah, sehingga potensi pertemuan kedua arus dapat dikurangi. Pelaksanaan proyek juga memperhatikan aspek kualitas dan keselamatan, baik selama pekerjaan berlangsung maupun pada hasil infrastruktur yang dibangun. Perhatian terhadap mutu diperlukan agar fasilitas dapat menjalankan fungsinya, sedangkan penerapan keselamatan menjadi bagian penting dari proses konstruksi. Melalui penyelesaian lebih awal dan koordinasi lintas pihak, WIKA berharap manfaat infrastruktur dapat dirasakan masyarakat serta mendukung kegiatan industri di Kutai Timur secara seimbang.
Setelah underpass Inul rampung, warga di Kutai Timur diharapkan dapat melintasi jalan nasional tanpa harus berhadapan langsung dengan jalur angkutan batu bara. Pemisahan lintasan ini menjadi perubahan penting bagi perjalanan sehari-hari, terutama bagi pengguna jalan yang sebelumnya melewati persimpangan dengan arus kendaraan berbeda. Warga dapat menggunakan akses yang disediakan untuk menyeberang, sementara truk batu bara mengikuti jalur tersendiri. Dengan demikian, perjalanan masyarakat tidak lagi bergantung pada kesempatan untuk melintas di kendaraan angkutan. Pengaturan tersebut ditujukan untuk membuat pergerakan warga lebih tertata dan mengurangi pertemuan arus yang selama ini terjadi di kawasan persimpangan.
Dampak lain yang diharapkan adalah berkurangnya antrean di persimpangan. Ketika jalur warga dan truk batu bara dipisahkan, potensi penumpukan akibat kedua arus bergerak pada titik yang sama dapat ditekan. Kelancaran lalu lintas tetap bergantung pada kondisi operasional di lapangan, tetapi keberadaan underpass memberi ruang bagi arus perjalanan yang lebih teratur. Perubahan ini tidak hanya berkaitan dengan kendaraan pribadi, melainkan juga dengan mobilitas orang dan barang di wilayah Kutai Timur. Perjalanan yang lebih lancar dapat membantu aktivitas harian berlangsung dengan lebih mudah, termasuk pergerakan yang menunjang kegiatan masyarakat dan distribusi barang di daerah tersebut.
Kelancaran arus orang dan barang itu diharapkan turut menggerakkan ekonomi daerah di Kalimantan Timur. Harapan tersebut bertumpu pada akses yang lebih tertata, bukan pada klaim bahwa pembangunan underpass dengan sendirinya menjamin peningkatan ekonomi. Proyek ini juga dinyatakan sejalan dengan Asta Cita pemerintah, terutama agenda pengembangan infrastruktur dan pembangunan dari daerah untuk pemerataan ekonomi.
Baca juga: Diduga Beroperasi Tanpa Hambatan, Tambang Batu Bara Ngepon Tuban Kembali Dipertanyakan | Dikepung Asap dan Bara, Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor Tak Beri Celah Karhutla Meluas Dekati Permukiman Warga






