Jakarta | Bareskrim Polri tengah memburu bandar besar dan pemasok utama narkotika yang diduga memasok peredaran di Kampung Ambon dan Kampung Boncos, Jakarta. Langkah ini menjadi fokus lanjutan setelah aparat melakukan penggerebekan pada Jumat (9/10). Dalam operasi tersebut, petugas menemukan sejumlah indikasi penting, sementara penyidik masih mendalami seluruh hasil penindakan untuk mengungkap pihak yang berada di balik jaringan tersebut.
Penggerebekan itu tidak hanya diarahkan untuk menghentikan aktivitas peredaran narkoba di tingkat lapangan. Bareskrim juga berupaya menelusuri jalur pasokan, pihak yang mengendalikan distribusi, serta kemungkinan adanya bandar yang selama ini beroperasi di luar kawasan. Penelusuran tersebut dinilai penting karena pengungkapan pengedar di lokasi kejadian dapat menjadi pintu masuk untuk membongkar jaringan yang lebih besar.
Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Kristian Siagian menyampaikan bahwa penyidik masih melakukan penyelidikan secara mendalam. Salah satu aspek yang dikaji ialah kemungkinan adanya hubungan jaringan peredaran narkoba di Kampung Ambon dan Kampung Boncos. Keterangan tersebut menunjukkan bahwa aparat belum menyimpulkan keterkaitan kedua wilayah itu, karena proses pengumpulan informasi dan pemeriksaan masih berlangsung.
Penyidik akan mencocokkan keterangan dari pihak-pihak yang diamankan dengan temuan selama operasi serta informasi mengenai pola distribusi narkotika. Dari proses itu, Bareskrim berharap dapat mengidentifikasi pemasok utama dan bandar yang mengatur peredaran. Pengungkapan jaringan tersebut menjadi bagian penting dari upaya memutus rantai pasokan narkoba, bukan sekadar menindak pelaku yang berada di tingkat penjualan atau distribusi lokal.
Penyidik Bareskrim Polri mendalami keterkaitan peredaran narkoba di Kampung Ambon dan Kampung Boncos. Penelusuran ini dilakukan untuk memastikan apakah kedua kawasan tersebut berada dalam satu jaringan yang sama atau justru terhubung melalui kelompok pemasok yang berbeda. Pemeriksaan terhadap para tersangka, saksi, serta alur distribusi menjadi bagian penting untuk memetakan hubungan tersebut secara menyeluruh.
Selain mengidentifikasi peran setiap pelaku, penyidik juga menelusuri asal narkotika, cara barang haram itu masuk ke wilayah sasaran, serta pihak yang mengendalikan distribusinya. Pendalaman hubungan antarkelompok pemasok diperlukan untuk mengetahui apakah terdapat koordinasi, pembagian wilayah, atau jalur pasokan yang saling berkaitan. Informasi tersebut diharapkan dapat mengungkap struktur jaringan hingga tingkat bandar yang selama ini berada di balik peredaran.
Kristian Siagian menegaskan bahwa aparat tidak hanya akan menangani pelaku yang berada di lapangan. Menurut dia, pihak yang terlibat akan ditindak tegas, termasuk mereka yang berperan sebagai pemasok dan pengendali. “Kami akan menindak tegas pihak-pihak yang terlibat dan memburu bandar besar yang memasok narkotika ke berbagai kawasan tersebut,” ujar Kristian.
Pernyataan itu menunjukkan bahwa penyidikan diarahkan untuk membongkar jaringan secara menyeluruh, bukan berhenti pada penangkapan kurir atau pengedar tingkat bawah. Aparat masih mengumpulkan bukti dan mencocokkan keterangan antarperkara guna menguji dugaan keterhubungan kedua kawasan. Setiap temuan akan dianalisis untuk menentukan apakah Kampung Ambon dan Kampung Boncos memiliki pusat kendali yang sama atau menerima pasokan dari jaringan berbeda.
Dengan menelusuri hubungan antarkelompok pemasok, Bareskrim berupaya menemukan rantai distribusi serta bandar utama yang memasok narkotika ke sejumlah wilayah. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya memutus jalur peredaran dari sumbernya dan memastikan penegakan hukum menjangkau seluruh pihak yang memiliki peran dalam jaringan tersebut.
Operasi gabungan digelar pada Jumat (9/10) pagi di dua wilayah yang selama ini menjadi perhatian dalam pengungkapan peredaran narkotika di Jakarta Barat, yakni Kampung Ambon, Cengkareng, dan Kampung Boncos, Palmerah. Kegiatan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya kepolisian menelusuri jaringan yang diduga memasok serta mengedarkan narkoba di kawasan ibu kota.
Direktur Reserse Narkoba Polda Metro Jaya Kombes Pol Bismo Teguh Prakoso menyampaikan bahwa operasi itu melibatkan sekitar 700 personel. Pasukan yang dikerahkan terdiri atas unsur Brimob, Dalmas, jajaran narkoba Polda Metro Jaya, Mabes Polri, Polres, serta TNI. Keterlibatan berbagai unsur tersebut menunjukkan bahwa penindakan dilakukan secara terpadu, dengan dukungan personel untuk pengamanan lokasi dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak yang dicurigai.
Dalam operasi di Kampung Ambon, petugas mengamankan 16 orang yang diduga berkaitan dengan jaringan peredaran narkotika. Sementara itu, di Kampung Boncos, delapan orang lainnya turut ditangkap. Dengan demikian, jumlah keseluruhan orang yang diamankan dari kedua lokasi mencapai 24 orang.
Penangkapan tersebut masih berkaitan dengan dugaan aktivitas jaringan narkotika di Jakarta Barat. Para terduga kemudian diamankan untuk menjalani pemeriksaan dan proses hukum lebih lanjut. Penyidik akan mendalami peran masing-masing, termasuk kemungkinan hubungan mereka dengan bandar atau pengendali jaringan yang memasok narkoba ke Kampung Ambon dan Kampung Boncos.
Operasi ini menjadi langkah awal untuk memetakan lebih jauh pola peredaran, pihak yang terlibat, serta jalur distribusi narkotika di kedua kawasan tersebut. Kepolisian juga terus menelusuri kemungkinan adanya pelaku lain yang berada di balik jaringan itu, sehingga penindakan tidak berhenti pada para pihak yang diamankan di lapangan.
Suasana di Kampung Ambon berubah tegang ketika petugas gabungan melakukan penyisiran untuk mengungkap peredaran narkoba di kawasan tersebut. Kedatangan aparat membuat sejumlah orang panik dan berusaha melarikan diri dari lokasi. Beberapa di antaranya dilaporkan memilih melompat ke sungai untuk menghindari pengejaran. Namun, upaya tersebut tidak berlangsung lama. Petugas berhasil mengejar, mengamankan, dan memborgol sejumlah orang yang diduga berkaitan dengan aktivitas peredaran narkotika.
Selain melakukan pengejaran, aparat memeriksa sejumlah rumah yang diduga digunakan untuk menyimpan atau mendukung kegiatan narkoba. Dalam pemeriksaan tersebut, petugas menemukan barang bukti berupa narkotika, uang tunai, serta sejumlah senjata tajam. Barang-barang yang diamankan lain panah, tombak, dan busur. Temuan itu memperlihatkan bahwa lokasi tersebut tidak hanya berkaitan dengan penyalahgunaan narkotika, tetapi juga memiliki potensi gangguan keamanan yang perlu diantisipasi.
Petugas juga menemukan tempat yang digunakan untuk menyewakan alat isap narkoba atau bong. Keberadaan tempat penyewaan tersebut menjadi perhatian karena dapat memudahkan orang untuk mengonsumsi narkotika sekaligus memperluas aktivitas penyalahgunaan di lingkungan sekitar. Seluruh temuan kemudian diamankan untuk kepentingan pemeriksaan dan proses penyelidikan lebih lanjut, termasuk penelusuran terhadap pihak yang diduga memasok barang terlarang tersebut.
Kristian Siagian mengimbau masyarakat agar tidak bersikap pasif dalam menghadapi persoalan narkoba. Warga diminta segera menyampaikan informasi apabila mengetahui adanya aktivitas mencurigakan, peredaran narkotika, atau tempat yang digunakan untuk penyalahgunaan. Menurutnya, pemberantasan narkoba membutuhkan dukungan masyarakat serta sinergi yang kuat dengan kepolisian. Kerja sama tersebut penting untuk mempercepat pengungkapan jaringan, melindungi lingkungan, dan memutus mata rantai bandar yang selama ini memasok narkotika ke berbagai wilayah.
Baca juga: Kodim 1714/Puncak Jaya Gelar Doa Bersama dan Peletakan Batu Pertama Pembangunan Jembatan di Kampung Kulonggame | PLTMH Hadir di Kampung Tabukeker, Buka Akses Listrik dan Air Bersih bagi Masyarakat | Program Jembatan Garuda, Kodim 1710/Mimika Bangun Akses dan Konektivitas di Kampung Kaugapu

