Jakarta | Kisah bayi bernama Alena menjadi perhatian publik setelah dibagikan melalui akun Threads @calisthaarisha. Unggahan tersebut kemudian menyebar luas di media sosial dan memicu kekhawatiran mengenai risiko pemberian makanan tertentu kepada bayi, termasuk telur yang belum dimasak. Dalam unggahan yang beredar, Alena disebut mengalami kondisi serius setelah diberi makan telur mentah oleh nenek kandungnya.
Menurut keterangan yang disampaikan melalui unggahan tersebut, bayi Alena kemudian menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Bayi itu disebut meninggal dunia ketika masih mendapatkan perawatan di rumah sakit tersebut. Informasi ini menjadi inti peristiwa yang banyak diperbincangkan, terutama karena dikaitkan dengan pemberian telur mentah sebelum kondisi Alena memburuk.
Namun, informasi yang beredar di media sosial perlu dipahami sesuai sumbernya. Penyebutan bahwa Alena diberi telur mentah dan kemudian meninggal saat dirawat di RSUD Dr. Soetomo merupakan keterangan yang disampaikan dalam unggahan akun tersebut. Keterangan itu tidak dengan sendirinya menjadi penetapan medis mengenai penyebab kematian. Karena itu, hubungan langsung konsumsi telur mentah dan kematian Alena tidak dapat dipastikan hanya berdasarkan informasi yang beredar.
Kisah ini tetap penting diperhatikan karena mengangkat pertanyaan tentang keamanan makanan bagi bayi dan perlunya kehati-hatian dalam menyiapkan makanan pendamping. Telur mentah dapat membawa risiko paparan bakteri, termasuk Salmonella, terutama apabila kebersihan bahan, penyimpanan, atau pengolahannya tidak terjamin. Meski demikian, pembahasan mengenai kasus Alena harus tetap membedakan kronologi yang dilaporkan, dugaan yang muncul di masyarakat, dan penyebab medis yang hanya dapat ditentukan berdasarkan pemeriksaan serta keterangan resmi. Dengan demikian, publik dapat mengambil pelajaran tentang keamanan pangan tanpa menambahkan kesimpulan yang belum dinyatakan oleh sumber.
Masyarakat diimbau tidak memberikan telur mentah atau setengah matang kepada bayi dan anak. Imbauan ini penting karena sistem pencernaan dan daya tahan tubuh anak, terutama bayi, masih berkembang sehingga lebih rentan terhadap gangguan akibat makanan yang terkontaminasi. Keamanan pangan perlu menjadi pertimbangan utama dalam menyiapkan makanan pendamping maupun menu harian anak.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp. Kardio(K), menjelaskan bahwa telur dalam kondisi mentah atau setengah matang tidak dianjurkan untuk diberikan kepada anak. Penjelasan tersebut disampaikan dalam pernyataan tertulis yang diterima media di Jakarta pada Senin. Keterangan ini menegaskan bahwa cara pengolahan telur merupakan bagian penting dari upaya melindungi anak dari risiko infeksi.
Telur mentah atau setengah matang berisiko mengandung bakteri Salmonella. Bakteri tersebut dapat menyebabkan salmonellosis, yaitu infeksi saluran cerna yang umumnya ditandai dengan diare, muntah, nyeri perut, demam, dan lemas. Pada bayi dan anak, kehilangan cairan akibat muntah atau diare dapat berkembang menjadi dehidrasi sehingga memerlukan perhatian lebih serius.
Risiko kontaminasi tidak selalu dapat dikenali dari tampilan, aroma, atau rasa telur. Karena itu, telur sebaiknya dimasak hingga bagian putih dan kuningnya matang sempurna sebelum disajikan kepada bayi maupun anak. Proses pemasakan yang memadai membantu mengurangi kemungkinan bakteri berbahaya masih hidup dalam makanan.
Orang tua juga perlu memperhatikan kebersihan tangan, peralatan masak, serta permukaan yang digunakan ketika mengolah telur. Telur matang hendaknya segera diberikan atau disimpan dengan cara yang tepat dan tidak dicampur dengan bahan makanan yang masih mentah. Dengan menerapkan langkah tersebut, keluarga dapat mengurangi risiko penyakit bawaan makanan sekaligus memastikan asupan anak tetap aman. Apabila anak mengalami diare, muntah berulang, demam, atau tanda dehidrasi setelah mengonsumsi makanan berisiko, orang tua perlu segera berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Salmonelosis adalah infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella. Salah satu tanda yang paling sering dikenali ialah diare, yang dapat muncul bersama demam, nyeri perut, muntah, atau beberapa keluhan tersebut secara bersamaan. Gejala ini dapat membuat kondisi tubuh terasa sangat tidak nyaman dan mengganggu aktivitas bayi maupun anak. Pada sebagian kasus, diare dan muntah juga dapat berkaitan dengan dehidrasi, yaitu keadaan ketika tubuh kehilangan cairan dalam jumlah yang lebih besar daripada yang tersedia.
Gejala salmonelosis tidak selalu tampak dalam bentuk yang sama pada setiap anak. Ada yang terutama mengalami diare, sementara yang lain dapat mengalami kombinasi diare, demam, nyeri perut, dan muntah. Karena tanda-tanda tersebut dapat muncul bersamaan, perubahan kondisi anak perlu dikenali secara cermat, terutama ketika keluhan berlangsung dengan intensitas yang mengkhawatirkan atau disertai tanda dehidrasi.
Bayi dan anak kecil termasuk kelompok yang lebih rentan apabila mengalami infeksi Salmonella. Pada usia ini, infeksi dapat menimbulkan gejala yang lebih berat dibandingkan pada kelompok usia yang lebih besar. Kerentanan tersebut menjadikan diare, demam, nyeri perut, muntah, dan dehidrasi sebagai tanda yang penting untuk diperhatikan. Bayi, khususnya, belum selalu mampu menyampaikan rasa sakit atau ketidaknyamanan yang dialaminya. Oleh karena itu, pengenalan terhadap perubahan kondisi dan kumpulan gejala menjadi hal penting dalam memahami kemungkinan salmonelosis pada anak kecil.
Dengan demikian, salmonelosis pada bayi dan anak tidak hanya perlu dikenali melalui satu keluhan. Diare yang disertai demam, nyeri perut, muntah, atau tanda dehidrasi dapat menunjukkan kondisi yang lebih serius, karena tubuh anak kecil lebih rentan terhadap dampak infeksi. Pemahaman mengenai daftar gejala tersebut membantu membedakan keluhan yang perlu diperhatikan dari gangguan pencernaan ringan, tanpa mengabaikan kemungkinan bahwa infeksi dapat berkembang dengan tingkat keparahan yang lebih tinggi pada usia dini.
Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menegaskan bahwa air susu ibu (ASI) merupakan makanan terbaik bagi bayi. ASI menyediakan zat gizi yang dibutuhkan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan, sekaligus menjadi bagian penting dalam pemenuhan kebutuhan bayi. Karena itu, pemberian makanan lain perlu dipahami sebagai makanan pendamping ASI, bukan pengganti ASI. Ketentuan ini menjadi penting dalam menilai pemberian telur kepada bayi, terutama setelah munculnya perhatian terhadap risiko telur mentah dalam kasus Alena.
Telur tetap dapat digunakan sebagai salah satu bahan makanan pendamping ASI sesuai usia dan kesiapan bayi. Namun, telur harus dimasak sampai matang sebelum diberikan. Arahan ini berlaku bagi bagian putih maupun kuning telur. Dokter Piprim menegaskan bahwa putih dan kuning telur sama-sama perlu matang, sehingga tidak menyisakan bagian yang masih mentah atau setengah matang. Pengolahan hingga matang merupakan langkah penting untuk mengurangi risiko paparan kuman, termasuk Salmonella, yang dapat menyebabkan gangguan kesehatan pada bayi.
Telur yang dimasak matang juga memiliki nilai gizi yang bermanfaat bagi anak. Bahan pangan ini merupakan sumber protein berkualitas tinggi yang mendukung berbagai proses pertumbuhan dan perkembangan tubuh. Selain protein, telur mengandung sejumlah zat gizi penting yang diperlukan dalam masa tumbuh kembang anak. Dengan demikian, perhatian utama bukan menghindari telur sepenuhnya, melainkan memastikan telur diberikan sebagai bagian dari makanan pendamping ASI dan melalui pengolahan yang aman. Pemahaman tersebut membantu orang tua mengikuti penjelasan IDAI serta arahan Piprim secara tepat, tanpa mengabaikan peran ASI sebagai makanan terbaik bagi bayi.
Baca juga: Warga Buka Aduan Dugaan Pemerasan, Kanit Reskrim Merakurak Diminta Beri Penjelasan | Perkara Empat Pekerja Klinik Sentosa Tak Kunjung Terang, LSM-GMBI Desak Penjelasan Kadis

