Jakarta | Lingsir Wengi: Motel Malioboro menjadi proyek film pertama Ochi Rosdiana yang mempertemukannya dengan Jeff Smith. Film tersebut dijadwalkan mulai tayang di bioskop pada 22 Oktober 2026. Kehadirannya di layar lebar kembali membawa Ochi menjadi sorotan, terutama karena proses pengambilan gambar berlangsung pada periode penting dalam kehidupan pribadinya. Ia menjalani syuting pada Desember 2024, beberapa bulan sebelum menikah pada Februari 2025. Dengan demikian, proyek ini dikerjakan ketika Ochi masih bersiap memasuki fase baru dalam kehidupannya, jauh sebelum ia dikenal menjalani peran sebagai seorang ibu.
Ochi menyampaikan keterangan itu saat ditemui di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan, pada Rabu, 14 Oktober 2026. Menurutnya, jadwal syuting film tersebut bertepatan dengan masa persiapan pernikahan. Pengalaman bekerja di tengah persiapan itu menjadi bagian dari cerita di balik keterlibatannya dalam film, sekaligus menandai salah satu proyek yang ia jalani sebelum menikah. Ochi kemudian menikah pada Februari 2025, setelah proses syuting rampung. Jarak waktu pengambilan gambar dan penayangan film membuat proyek tersebut kembali dibicarakan menjelang jadwal tayangnya di bioskop.
Dalam kesempatan yang sama, Ochi juga menjelaskan perubahan lain yang terjadi setelah fase tersebut. Ia baru mengenakan hijab pada April, setelah menjadi ibu. Keterangan itu memperlihatkan bahwa rangkaian peristiwa dalam kehidupannya berlangsung setelah syuting selesai: ia menikah pada Februari 2025, lalu menjalani pengalaman sebagai ibu dan mulai mengenakan hijab pada April. Film bersama Jeff Smith ini karena itu merekam masa Ochi sebelum perubahan-perubahan tersebut. Penonton dapat menyaksikan hasil proyek pertamanya bersama Jeff Smith mulai 22 Oktober 2026, sementara kisah di balik proses produksinya memberi konteks mengenai waktu pengambilan gambar dalam perjalanan pribadi Ochi.
Dalam proyek film tersebut, Ochi Rosdiana kembali bertemu dengan Chika, juniornya saat masih berada di JKT48. Pertemuan itu menjadi salah satu hal menarik di lokasi syuting, terutama karena sejak awal Ochi belum mengetahui siapa rekan junior yang akan terlibat. Sutradara yang ia panggil Pak Ade sempat memberi tahu bahwa akan ada seorang junior Ochi di lokasi, tetapi tidak menyebutkan namanya. Informasi itu membuat Ochi penasaran dan mencoba menebak siapa orang yang dimaksud.
Rasa ingin tahu tersebut muncul karena Ochi menjalani homeschooling dan tidak selalu mengikuti keseharian para anggota JKT48 seperti dahulu. Ia pun sempat bertanya-tanya junior mana yang akan hadir dalam produksi itu. Setelah mengetahui bahwa sosok yang dimaksud adalah Chika, Ochi akhirnya dapat menyambut kembali seseorang yang pernah menjadi juniornya. Reuni dalam suasana kerja tersebut sekaligus mempertemukan mereka dalam pengalaman yang berbeda dari masa di grup, yakni menjalani proses produksi film bersama.
Selain menceritakan pertemuan itu, Ochi juga menggambarkan perbedaan mendalami karakter dalam film dan sinetron stripping. Menurutnya, cerita serta karakter dalam film terasa lebih matang. Jadwal produksinya pun memberi waktu berbulan-bulan untuk memahami dan mencerna karakter yang akan dimainkan. Jarak waktu tersebut memberinya kesempatan untuk mengenali perjalanan tokoh, mempertimbangkan motivasi, serta mempersiapkan diri sebelum proses syuting berlangsung. Cara kerja seperti ini berbeda dari ritme sinetron yang lebih cepat dan menuntut penyesuaian terus-menerus.
Dalam pengalaman Ochi di sinetron stripping, skenario dapat diterima setiap hari. Setelah naskah datang, ia perlu segera membacanya dan mendalami materi untuk kebutuhan adegan. Tidak banyak jeda panjang untuk memikirkan karakter seperti yang tersedia dalam produksi film. Perbandingan itu menunjukkan bahwa kedua format menuntut cara kerja yang berbeda: sinetron mengandalkan respons cepat terhadap cerita yang terus bergerak, sedangkan film menyediakan ruang persiapan lebih luas. Bagi Ochi, waktu berbulan-bulan dalam proyek film menjadi kesempatan untuk menyelami karakter secara lebih mendalam sebelum membawanya ke hadapan kamera.
Peran baru sebagai ibu membawa perubahan besar dalam keseharian Ochi Rosdiana. Kini, ia memiliki seorang anak laki-laki yang usianya hampir enam bulan. Dalam fase awal membesarkan anak tersebut, Ochi merasakan bahwa waktu menjadi hal yang paling banyak berubah. Rutinitas yang sebelumnya dapat ia atur dengan leluasa kini harus disesuaikan dengan kebutuhan sang buah hati. Perhatian dan tenaga yang ia miliki pun lebih sering tercurah untuk mendampingi anak, sehingga kebiasaan sehari-hari tidak lagi hanya berpusat pada dirinya sendiri.
Ochi mengakui bahwa setelah menjadi orang tua, ia tidak lagi terlalu memikirkan kepentingan pribadi. Anak kini menjadi prioritas utama, termasuk dalam hal-hal sederhana yang sebelumnya mungkin terasa biasa. Ia bahkan bersedia menunda mandi ketika anak membutuhkan teman atau perhatian. Bagi Ochi, pilihan seperti itu menggambarkan bagaimana tanggung jawab sebagai ibu mengubah urutan hal yang dianggap penting. Kenyamanan dirinya dapat menunggu, sementara kebutuhan anak lebih dahulu diperhatikan. Perubahan tersebut bukan sekadar soal jadwal, melainkan juga cara memandang waktu dan mengambil keputusan dalam keseharian.
Pengalaman itu membuat Ochi teringat pada nasihat ibunya mengenai perubahan prioritas setelah seseorang memiliki anak. Dulu, pesan tersebut mungkin hanya terdengar sebagai gambaran tentang kehidupan orang tua. Kini, setelah merasakannya sendiri, ia memahami maknanya dengan lebih dekat. Menjadi ibu membuatnya menyadari bahwa perhatian terhadap diri sendiri tidak lagi selalu menjadi pertimbangan pertama. Ada kebutuhan anak yang perlu didahulukan, bahkan saat ia harus mengubah rencana atau menunda urusan pribadi. Pandangan tersebut menunjukkan sisi keseharian Ochi yang kini berbeda: waktunya lebih banyak dibentuk oleh kehadiran anak, dan keputusan kecil pun mencerminkan komitmennya untuk hadir bagi sang buah hati.
Setelah melahirkan, Ochi Rosdiana semula tidak terpikir untuk langsung menerima pekerjaan. Perhatian dan waktunya saat itu lebih banyak tertuju pada keluarga, terutama dalam menjalani hari-hari awal sebagai ibu. Ia tidak membuat keputusan untuk segera kembali bekerja, sebab mengurus anak menjadi prioritas yang telah dibicarakan bersama suaminya. Karena itu, kemunculannya dalam kegiatan promosi film yang kini akan tayang bukan berarti ia telah menetapkan jadwal kerja baru atau kembali mengambil berbagai tawaran. Ada satu komitmen yang sudah lebih dahulu disepakati, yakni memberi ruang bagi dirinya untuk fokus mengurus anak. Sikap tersebut menjadi pertimbangan Ochi dalam menyikapi pekerjaan setelah melahirkan, termasuk saat publik kembali melihatnya dalam promosi film.
Film yang sedang dipromosikan itu memiliki proses syuting yang berlangsung pada 2024, sebelum Ochi menjadi ibu. Kini, setelah film tersebut akan tayang, ia tetap menjalani kegiatan promosi sebagai bagian dari komitmen pada proyek yang sudah dikerjakan. Dengan demikian, aktivitas promosi yang dilakukan saat ini berkaitan dengan film yang telah selesai diproduksi, bukan tanda bahwa ia telah memastikan akan kembali bekerja secara rutin. Ochi menyadari bahwa kehadirannya diperlukan untuk memperkenalkan film kepada penonton, meski pada saat yang sama ia tetap menempatkan tanggung jawab mengurus anak sebagai fokus utama. Perbedaan waktu proses syuting dan masa penayangan membuatnya kembali tampil di hadapan publik melalui proyek yang sudah ada, sementara keputusan mengenai pekerjaan berikutnya belum ditentukan.
Ochi menyatakan bahwa ia dan suaminya telah berkomitmen untuk fokus mengurus anak terlebih dahulu. Mereka belum memastikan seperti apa rencana kerja selanjutnya, sehingga ia tidak menyampaikan keputusan pasti mengenai kapan akan menerima pekerjaan baru. Untuk saat ini, prioritas tersebut dijalani tanpa mengesampingkan kewajiban promosi film yang sebelumnya telah direkam.
Baca juga: BUKTI LEMAH, JANGAN PAKSA MASUK PENGADILAN: SEMA 4/2026 MENJADI ALARM KERAS BAGI PENEGAK HUKUM Dedy Luqman Hakim: Kualitas Perkara Harus Dibangun Sebelum Persidangan | Memahami Papua: Koops TNI Habema Menyalakan Kembali Asa di Lembah Ugimba | Penindakan Dipertanyakan! Sabung Ayam Kembali Beroperasi di Kecamatan Kepung Kabupaten Kediri






