Jakarta | Dino Patti Djalal mengingatkan pemerintah agar menjaga kredibilitas Indonesia di mata dunia. Menurutnya, kepercayaan internasional bukan sekadar citra yang melekat pada sebuah negara, melainkan aset strategis yang memengaruhi kemampuan Indonesia menjalin kerja sama, menyampaikan kepentingan, dan berperan dalam percaturan global. Reputasi yang kuat dapat membuka ruang bagi diplomasi dan memperbesar daya tawar. Sebaliknya, ketika kepercayaan terkikis, hubungan dengan mitra dapat menjadi lebih sulit dan berbagai upaya untuk memulihkannya membutuhkan waktu panjang. Karena itu, pemerintah perlu mempertimbangkan dampak kebijakan dan pernyataan publik terhadap pandangan negara lain.
Peringatan tersebut disampaikan Dino dalam acara Permata Bank Wealth Wisdom 2026 di Jakarta pada Kamis (22/10). Ia memiliki pengalaman langsung dalam diplomasi, termasuk saat menjabat sebagai wakil menteri luar negeri pada era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Pengalaman itu memberi konteks pada pesannya tentang pentingnya konsistensi dan kehati-hatian dalam menjaga nama baik Indonesia. Dalam hubungan antarnegara, kepercayaan tumbuh melalui tindakan yang berulang, kepatuhan terhadap komitmen, serta sikap yang dinilai dapat diperkirakan. Satu keputusan mungkin tidak serta-merta mengubah persepsi, tetapi rangkaian tindakan yang bertentangan dengan prinsip dapat memunculkan keraguan di kalangan mitra internasional.
Dino menekankan bahwa Indonesia selama ini dikenal sebagai negara yang berprinsip dan dapat dipercaya. Pengakuan tersebut merupakan modal diplomatik yang terbentuk selama bertahun-tahun, bukan keuntungan yang otomatis bertahan tanpa dijaga. Pemerintah, menurut inti pesannya, perlu berhati-hati agar kebijakan maupun langkah diplomasi tidak merusak reputasi yang telah dibangun. Menjaga kredibilitas juga berarti memastikan ucapan sejalan dengan tindakan, memenuhi komitmen, dan menjelaskan sikap Indonesia secara konsisten kepada dunia. Jika kepercayaan hilang, pemulihannya tidak cukup dengan pernyataan atau janji baru; diperlukan bukti nyata dalam jangka panjang. Pesan itu menempatkan reputasi negara sebagai kepentingan bersama yang perlu dipelihara melalui keputusan yang bertanggung jawab.
Dino Patti Djalal menilai Indonesia memiliki sejumlah modal strategis yang menempatkannya pada posisi penting dalam percaturan internasional. Dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia, Indonesia mempunyai skala demografi yang besar, sekaligus potensi tenaga kerja, pasar, dan daya dukung sosial yang luas. Keunggulan tersebut berpadu dengan kekayaan sumber daya alam yang dapat menjadi dasar pengembangan ekonomi dan kerja sama lintas negara. Modal ini memberi Indonesia kapasitas untuk berperan lebih besar, tetapi nilainya bergantung pada kemampuan negara mengelola dan mengarahkannya secara efektif.
Letak geografis Indonesia juga menjadi faktor penting. Berada di kawasan Indo-Pasifik, Indonesia terhubung dengan jalur pelayaran dan perdagangan strategis, serta berada di tengah dinamika hubungan berbagai kekuatan regional dan global. Kombinasi lokasi, populasi, dan sumber daya membuat Indonesia memiliki banyak peluang untuk membangun kemitraan di bidang ekonomi, keamanan, dan diplomasi. Negara-negara yang berupaya memperluas pengaruhnya di Indo-Pasifik sulit mengabaikan Indonesia, baik karena bobotnya di kawasan maupun karena peran yang dapat dimainkannya dalam menjaga stabilitas dan mendorong dialog.
Namun, menurut pandangan Dino, keunggulan geografis dan demografis tidak dengan sendirinya membuat Indonesia dihormati atau dipercaya. Modal strategis hanya membuka pintu; hubungan yang kuat tetap memerlukan bukti bahwa pemerintah mampu mengambil sikap yang konsisten, memenuhi komitmen, dan dapat diandalkan saat bekerja sama dengan mitra internasional. Ketika kebijakan berubah tanpa penjelasan atau janji tidak ditindaklanjuti, kredibilitas dapat melemah, sekalipun Indonesia memiliki pengaruh dan potensi besar. Karena itu, pemanfaatan posisi Indonesia perlu disertai diplomasi yang terukur, komunikasi yang jelas, serta kesinambungan pernyataan dan tindakan. Dino menekankan bahwa rasa hormat tidak dapat dipaksakan melalui klaim tentang besarnya Indonesia atau pentingnya lokasinya. Rasa hormat harus diperoleh melalui perilaku yang menunjukkan tanggung jawab, konsistensi, dan kepercayaan. Dengan demikian, kekuatan struktural negara dapat benar-benar diterjemahkan menjadi pengaruh dan kemitraan yang bermakna.
Dino Patti Djalal mengingatkan bahwa nilai strategis Indonesia tidak dengan sendirinya menjamin hubungan yang kuat dengan mitra internasional. Posisi geografis, ukuran ekonomi, serta peran Indonesia di kawasan memang membuat negara ini penting, tetapi arti penting tersebut perlu ditopang oleh kepercayaan. Jika mitra meragukan konsistensi atau kredibilitas Indonesia, kepentingan strategis saja tidak cukup untuk menjaga kerja sama tetap kokoh. Kepercayaan memberi dasar bagi negara lain untuk menjalin dialog, menyelaraskan kepentingan, dan mengandalkan Indonesia dalam berbagai agenda regional. Karena itu, reputasi bukan sekadar citra yang dapat dipisahkan dari kebijakan, melainkan modal diplomatik yang berpengaruh terhadap kemampuan negara membangun kemitraan.
Menurut peringatan tersebut, kredibilitas yang telah terkikis sulit dipulihkan. Membangun reputasi membutuhkan waktu, sedangkan keraguan dapat muncul lebih cepat dan memengaruhi penilaian mitra terhadap komitmen suatu negara. Upaya memperbaiki keadaan karena itu berpotensi menuntut kerja panjang: menunjukkan konsistensi, memenuhi komitmen, serta menyampaikan kebijakan secara jelas. Namun, perhatian utama semestinya bukan hanya pada cara memulihkan kepercayaan setelah kerusakan terjadi. Indonesia perlu menjaga modal tersebut sejak awal, dengan memastikan tindakan dan pernyataan diplomatik saling sejalan. Langkah pencegahan dinilai lebih bijak daripada mengandalkan upaya pemulihan yang belum tentu segera mengembalikan keyakinan pihak lain.
Arti penting Indonesia terasa bagi negara-negara yang aktif di Indo-Pasifik dan Asia Tenggara. Dalam pandangan Dino, negara-negara tersebut perlu bekerja sama dengan Indonesia, sehingga hubungan yang didasari kepercayaan memiliki nilai praktis bagi kepentingan kawasan. Pesan ini tidak berarti bahwa posisi strategis Indonesia dapat menjadi alasan untuk mengabaikan kredibilitas; sebaliknya, keduanya saling berkaitan. Semakin penting peran Indonesia dalam percakapan regional, semakin besar pula kebutuhan untuk menjaga reputasi sebagai mitra yang dapat dipercaya. Peringatan itu menggarisbawahi bahwa hubungan internasional tidak hanya ditentukan oleh kepentingan, tetapi juga oleh keyakinan bahwa kerja sama dapat dijalankan secara konsisten dan bertanggung jawab. Menjaga keyakinan tersebut merupakan bagian penting dari upaya mempertahankan pengaruh Indonesia.
Dalam menilai kondisi diplomasi Indonesia, Dino Patti Djalal menyoroti bahwa kemampuan perwakilan di luar negeri tidak hanya ditentukan oleh kualitas diplomat, tetapi juga oleh dukungan sumber daya yang tersedia. Pengalaman dan kapasitas untuk menjalin komunikasi dengan mitra perlu ditopang anggaran yang memungkinkan kegiatan diplomasi berjalan secara konsisten. Tanpa dukungan tersebut, perwakilan menghadapi keterbatasan dalam memperkenalkan Indonesia dan menyampaikan kepentingan nasional kepada masyarakat maupun pemangku kepentingan di negara penugasan.
Dino mengisahkan percakapannya dengan seorang kepala perwakilan Indonesia yang mengeluhkan menyusutnya dana promosi Indonesia di negara tempat ia bertugas. Jika sebelumnya anggaran untuk kegiatan itu mencapai sekitar Rp6 miliar per tahun, kini jumlahnya disebut hampir nol. Perubahan tersebut, menurut kisah yang disampaikan Dino, membuat ruang gerak perwakilan semakin terbatas untuk menjalankan berbagai inisiatif promosi. Anggaran promosi bukan sekadar pos administratif, melainkan salah satu sarana untuk memperkenalkan potensi, nilai, dan kepentingan Indonesia secara terarah.
Salah satu contoh kegiatan yang terdampak adalah resepsi diplomatik tahunan. Acara semacam ini dapat menjadi kesempatan bagi perwakilan untuk mempertemukan pejabat, mitra, dan kalangan lain yang berpengaruh, sekaligus menjaga komunikasi serta mempererat hubungan. Namun, Dino menyebut penyelenggaraannya kini terkendala ketiadaan anggaran. Ketika kegiatan rutin yang menyediakan ruang perjumpaan tidak dapat dilaksanakan, kesempatan untuk memelihara jaringan dan membangun kedekatan dengan mitra juga berkurang. Dampaknya tidak selalu langsung terlihat, tetapi hubungan yang terawat membutuhkan interaksi berkelanjutan.
Bagi Dino, pemerintah perlu mengambil peran aktif dalam diplomasi, bukan hanya menetapkan arah kebijakan dari pusat.






