Jakarta | Kementerian Kesehatan menyiapkan ratusan rumah oksigen serta mobil layanan keliling untuk membantu warga yang mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Upaya ini ditujukan untuk memperluas akses pertolongan, terutama bagi masyarakat di daerah yang terdampak asap dan membutuhkan dukungan pernapasan. Direktur Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan, dr. dr. Ten Suyanti, menjelaskan persiapan tersebut di Jakarta pada Kamis.
Rumah oksigen merupakan ruangan atau bangunan khusus yang menyediakan pasokan oksigen bagi warga. Pasokan itu dapat berasal dari alat konsentrat oksigen maupun tabung konvensional. Dengan menyiapkan fasilitas khusus, layanan dapat membantu masyarakat memperoleh oksigen ketika mengalami keluhan pernapasan akibat paparan asap. Keberadaan rumah oksigen juga menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan layanan kesehatan selama kondisi kabut asap berlangsung.
Selain menyediakan titik layanan tetap, Kementerian Kesehatan menyiapkan mobil layanan keliling. Kendaraan ini dimaksudkan untuk menjangkau masyarakat di wilayah terdampak, sehingga bantuan tidak hanya bergantung pada fasilitas yang berada di satu lokasi. Layanan bergerak dapat mendekatkan dukungan kepada warga yang kesulitan mengakses pertolongan, sekaligus membantu memperluas cakupan penanganan di lapangan. Rincian operasional, seperti rute dan jadwal layanan, dapat disesuaikan dengan kebutuhan serta keadaan masing-masing daerah.
Penyiapan fasilitas tersebut merupakan bagian dari respons terhadap dampak kesehatan yang dapat muncul ketika asap menyelimuti permukiman. Warga yang merasakan sesak napas atau keluhan lain perlu mencari bantuan tenaga kesehatan, terutama jika gejala memburuk. Rumah oksigen dan mobil layanan keliling menyediakan jalur pertolongan tambahan, tetapi bukan pengganti pemeriksaan medis maupun upaya mengurangi paparan asap. Masyarakat tetap perlu mengikuti arahan petugas kesehatan setempat dan memanfaatkan layanan yang tersedia sesuai kebutuhan. Melalui kombinasi fasilitas tetap dan layanan bergerak, dukungan pernapasan diharapkan lebih mudah dijangkau oleh warga yang terdampak karhutla.
Rumah oksigen disiapkan sebagai tempat pertolongan pertama bagi warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan. Fasilitas ini dapat dimanfaatkan ketika seseorang merasa sesak napas, mengalami penurunan saturasi oksigen, atau merasakan ketidaknyamanan lain setelah menghirup udara tercemar. Kehadiran rumah oksigen membantu warga memperoleh penanganan awal lebih dekat, terutama saat kualitas udara memburuk dan layanan kesehatan setempat menerima banyak keluhan serupa.
Selain menyediakan oksigen, fasilitas ini menyiagakan tenaga kesehatan, termasuk perawat, untuk memeriksa dan memantau kondisi pengunjung. Pemantauan dapat mencakup pengamatan terhadap keluhan, kondisi pernapasan, serta saturasi oksigen apabila alat ukur tersedia. Berdasarkan penilaian tenaga kesehatan, obat-obatan untuk meredakan gejala dapat diberikan bila diperlukan dan sesuai dengan kondisi pasien. Langkah ini bertujuan membantu mengurangi ketidaknyamanan, bukan menggantikan pemeriksaan atau perawatan medis lanjutan.
Warga dengan gejala berat, kondisi yang memburuk, atau kebutuhan penanganan khusus perlu dirujuk ke fasilitas kesehatan yang memiliki layanan lebih lengkap. Karena itu, tenaga di rumah oksigen dapat membantu mengenali kebutuhan tersebut dan mengarahkan pasien agar memperoleh pertolongan selanjutnya. Pendampingan petugas juga memberi warga informasi mengenai langkah yang perlu dilakukan, termasuk membatasi aktivitas di luar ruangan dan mengurangi paparan asap selama kondisi udara belum membaik.
Sejumlah rumah oksigen bersifat menetap dan terintegrasi dengan fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas. Penempatan ini memudahkan koordinasi dengan tenaga medis, penggunaan sarana yang tersedia, serta proses rujukan apabila diperlukan. Integrasi tersebut juga dapat memperjelas alur pelayanan bagi warga yang datang untuk memperoleh pertolongan awal. Dengan dukungan perawat dan keterhubungan dengan layanan kesehatan, rumah oksigen diharapkan menjadi salah satu titik respons bagi masyarakat terdampak asap karhutla, sembari tetap mengutamakan pemeriksaan medis sesuai tingkat keparahan gejala.
Layanan darurat bagi warga yang terdampak asap kebakaran hutan dan lahan telah diperluas hingga sekitar 491 titik di berbagai daerah. Sebaran ini dimaksudkan untuk mendekatkan bantuan kepada masyarakat yang menghadapi kualitas udara buruk, sekaligus menyediakan tempat untuk memperoleh dukungan oksigen saat diperlukan. Enam provinsi menjadi prioritas penanganan, yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. Penentuan wilayah prioritas membantu pemerintah memusatkan sumber daya di kawasan yang mengalami dampak asap. Jumlah titik yang luas juga memungkinkan layanan menjangkau lebih banyak warga, termasuk mereka yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan. Namun, ketersediaan layanan di setiap lokasi dapat berbeda, sehingga masyarakat perlu memperhatikan informasi terbaru sebelum mendatangi titik bantuan.
Untuk memudahkan warga menemukan tempat terdekat, pemerintah menyiapkan aplikasi yang memuat lokasi rumah oksigen dan dapat diakses oleh publik. Informasi lokasi ditampilkan secara real-time, sehingga masyarakat dapat memeriksa titik layanan yang tersedia tanpa harus mencari keterangan dari banyak sumber. Akses digital ini dapat membantu keluarga merencanakan perjalanan, terutama ketika kondisi udara dan jarak menjadi pertimbangan penting. Warga dapat menggunakan informasi tersebut untuk mengetahui lokasi rumah oksigen di sekitar mereka dan menentukan tujuan yang sesuai. Pemutakhiran data menjadi bagian penting dari layanan, sebab perubahan operasional atau kondisi di lapangan dapat memengaruhi ketersediaan bantuan. Karena itu, pengguna sebaiknya memeriksa aplikasi sebelum berangkat dan mengikuti arahan petugas setempat ketika tiba di lokasi.
Selain rumah oksigen yang berada di titik layanan, pemerintah daerah mengoperasikan mobil keliling dengan perangkat oksigen konsentrat. Kendaraan ini dirancang untuk menjangkau warga, sehingga bantuan tidak hanya bergantung pada kemampuan masyarakat untuk datang ke fasilitas tetap. Mobil dapat mendekati wilayah permukiman dan lokasi lain yang membutuhkan dukungan, mengikuti pengaturan serta kebutuhan di daerah masing-masing. Kehadiran layanan bergerak menjadi pelengkap jaringan titik darurat, khususnya ketika jarak, mobilitas, atau keadaan warga menyulitkan perjalanan. Warga dapat mengikuti pengumuman pemerintah daerah mengenai rute dan waktu operasional kendaraan tersebut. Dengan kombinasi rumah oksigen, informasi lokasi yang terbuka, dan mobil berperangkat konsentrat, upaya tanggap darurat diharapkan lebih mudah dijangkau masyarakat di enam provinsi prioritas maupun titik terdampak lainnya.
Kementerian Kesehatan mencatat kasus kumulatif infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang dikaitkan dengan dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mencapai 333.470 kasus. Dalam catatan yang sama, terdapat 4.522 kasus harian. Angka tersebut menggambarkan jumlah kasus yang dilaporkan dalam kaitannya dengan dampak karhutla, sehingga perlu dibaca bersama rincian kelompok usia yang disampaikan Kementerian Kesehatan.
Berdasarkan pengelompokan usia, sebanyak 75.172 kasus tercatat pada balita, yakni anak berusia di bawah lima tahun. Sementara itu, kelompok usia di atas lima tahun mencatat 258.258 kasus. Rincian ini menunjukkan pembagian jumlah kasus menurut kategori umur yang tersedia, bukan keterangan mengenai tingkat keparahan atau hasil penanganan pasien. Data tersebut menjadi catatan penting dalam melihat warga yang terdampak ISPA di tengah situasi karhutla.
Perhatian pada kelompok usia rentan juga berkaitan dengan upaya menyediakan akses terhadap layanan ketika warga membutuhkan bantuan. Ten Suyanti menyampaikan harapan agar rumah oksigen dan mobil keliling dapat memudahkan akses layanan darurat bagi masyarakat terdampak. Kemudahan tersebut diharapkan terutama dirasakan oleh kelompok rentan, seperti lanjut usia dan anak-anak. Dengan demikian, keberadaan rumah oksigen serta layanan bergerak diarahkan untuk membantu warga memperoleh akses darurat, terutama mereka yang mungkin membutuhkan perhatian khusus. Harapan yang disampaikan itu menekankan pentingnya kemudahan akses bagi warga dalam situasi terdampak asap karhutla, tanpa mengabaikan kelompok yang memerlukan perhatian lebih, termasuk lansia dan anak-anak.
Baca juga: Perkuat Kesadaran Warga, Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Bersama Pasis Sesko TNI Sosialisasikan Pencegahan Karhutla | Tim Penyuluh Karhutla Sesko TNI Berikan Sosialisasi Kepada Warga Dalam Upaya Pencegahan Karhutla | Satgas Karhutla TNI Kawal Penyaluran Bantuan Korporasi untuk Desa Terdampak di Melawi






