Jakarta | Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa tingkat polusi udara di Jakarta berada pada kondisi rendah selama dua hari penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF). Menurutnya, keadaan tersebut membuat udara terasa nyaman, baik bagi para peserta yang mengikuti kegiatan lari maupun warga yang beraktivitas di sekitar kota. Pramono menyampaikan keterangan itu saat menghadiri Merah Muda Fest di Museum Sumpah Pemuda, Jakarta Pusat, pada Minggu, 25 Oktober 2026. Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena kualitas udara merupakan salah satu hal yang dirasakan langsung oleh masyarakat ketika mengikuti acara luar ruang berskala besar.
JRF berlangsung selama dua hari, dan Pramono mengaitkan suasana udara yang nyaman dengan rendahnya polusi pada periode tersebut. Keterangan itu memberikan gambaran mengenai kondisi yang dirasakan saat festival berjalan, meski tidak disertai angka pengukuran kualitas udara dalam pernyataan yang disampaikan di acara tersebut. Bagi peserta, udara yang terasa lebih nyaman dapat mendukung pengalaman mengikuti kegiatan, sementara warga juga dapat menikmati suasana kota. Namun, penilaian tentang kualitas udara perlu dibedakan dari data pemantauan resmi, yang dapat menunjukkan perubahan berdasarkan lokasi dan waktu. Karena itu, pernyataan gubernur ini terutama mencatat kondisi yang ia sampaikan ketika membicarakan pelaksanaan festival.
Jakarta Running Festival melibatkan kegiatan di ruang terbuka, sehingga kondisi lingkungan menjadi bagian penting dari pengalaman peserta dan masyarakat. Pernyataan Pramono menyoroti bahwa selama dua hari acara, polusi dinilai rendah dan udara terasa nyaman. Informasi tersebut juga muncul dalam konteks pembicaraan mengenai upaya pemerintah mengelola kualitas udara di ibu kota. Meski demikian, satu periode yang terasa lebih baik tidak dengan sendirinya menggambarkan kondisi sepanjang tahun; tingkat polusi dapat berubah dari hari ke hari. Untuk memahami perubahan secara menyeluruh, diperlukan pengamatan berkelanjutan serta rujukan pada catatan pengukuran. Dalam keterangannya di Museum Sumpah Pemuda, Pramono menekankan pengalaman selama JRF, yang menjadi pokok kabar mengenai kondisi udara Jakarta pada akhir pekan itu.
Pramono menyampaikan angka kualitas udara yang ia amati pada hari pelaksanaan full marathon, dengan mencatat perubahan pengukuran dari waktu ke waktu. Saat membuka flag-off pada pukul 04.00 WIB, angka yang terlihat berada di 61. Keterangan ini merujuk pada kondisi yang diamati pada awal kegiatan, ketika peserta mulai mengikuti lomba. Pramono kemudian menyebut bahwa angka tersebut berubah seiring berjalannya waktu. Ia menguraikan urutannya secara langsung: dari 61 pada pukul 04.00 WIB, lalu bergerak naik menjadi 68, sebelum mencapai 80 pada siang hari.
Rangkaian angka itu menjadi bagian dari keterangan Pramono mengenai kualitas udara selama hari perlombaan. Ia menempatkan angka 61 pada saat membuka flag-off, yakni pada pukul 04.00 WIB, kemudian menyebut nilai 68 sebagai perkembangan berikutnya. Pada pengamatan yang disampaikannya untuk waktu siang, angka tersebut tercatat mencapai 80. Dengan demikian, informasi yang ia berikan menunjukkan tiga titik pengamatan yang dapat dibaca secara berurutan, yakni 61, 68, dan 80, dengan waktu awal yang disebut secara khusus serta perkembangan hingga siang hari.
Dalam menyampaikan data tersebut, Pramono mengaitkan keterangannya dengan hari pelaksanaan full marathon dan waktu pembukaan flag-off. Urutan waktu penting dicatat agar angka-angka yang disebut tidak terlepas dari konteks pengamatannya: pukul 04.00 WIB saat ia membuka flag-off, angka 61; setelah itu angka naik menjadi 68; dan pada siang hari mencapai 80. Keterangan ini menyajikan nilai yang ia amati, tanpa menambahkan rincian mengenai skala pengukuran atau kategori tertentu. Karena itu, pembaca dapat memahami perubahan angka sebagaimana disampaikan Pramono, sekaligus membedakan waktu pengamatan yang tercantum dalam keterangannya.
Pramono mengaitkan kondisi udara Jakarta yang terasa lebih bersahabat dengan pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Menurut keterangannya, ia mengarahkan agar operasi tersebut dilakukan selama dua hari berturut-turut. Upaya itu disebut berlangsung beriringan dengan turunnya polusi, meskipun pernyataan tersebut menjelaskan kaitan yang ia amati dan bukan dengan sendirinya membuktikan bahwa OMC menjadi satu-satunya penyebab perubahan kualitas udara. Kondisi atmosfer dan cuaca dapat berubah dari waktu ke waktu, sehingga pengamatan terhadap polusi perlu mempertimbangkan beragam faktor, termasuk hujan dan pergerakan udara. Pramono menyampaikan bahwa cuaca yang lebih baik menjadi hal yang dirasakan di Jakarta pada saat itu. Keterangan mengenai operasi dua hari tersebut memberi konteks pada upaya pemerintah daerah dalam menghadapi kondisi udara, sekaligus menunjukkan bahwa pelaksanaan OMC bertepatan dengan perubahan cuaca dan penurunan polusi yang ia sebutkan. Penjelasan itu menjadi bagian dari paparan mengenai situasi udara di ibu kota.
Ia juga menyebut hujan turun pada malam sebelumnya di sejumlah kawasan perbatasan Jakarta. Wilayah yang disebut mencakup Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta Barat, serta kawasan Menteng. Hujan di beberapa lokasi itu menjadi salah satu peristiwa cuaca yang disampaikan Pramono saat menjelaskan kondisi udara dan pelaksanaan OMC. Sebaran hujan tersebut tidak berarti bahwa seluruh wilayah Jakarta menerima curah hujan yang sama. Keterangan yang disampaikan merujuk pada beberapa daerah tertentu, sehingga tidak dapat langsung ditafsirkan sebagai hujan merata di seluruh kota. Perbedaan kondisi antarkawasan juga penting untuk dipahami ketika membicarakan dampak cuaca terhadap aktivitas masyarakat. Di sejumlah titik, hujan turun pada malam hari, sementara wilayah lain tidak mengalaminya. Pramono menyampaikan lokasi-lokasi tersebut sebagai bagian dari laporan cuaca malam sebelumnya, dengan menyebut beberapa kawasan secara spesifik agar masyarakat memperoleh gambaran mengenai sebaran hujan di sekitar ibu kota.
Berbeda dari kawasan-kawasan yang disebutkan, hujan tidak turun di area Gelora Bung Karno (GBK). Pramono menyatakan bahwa hujan di lokasi tersebut berpotensi mengganggu konser Ye yang sedang berlangsung. Dengan demikian, tidak turunnya hujan di sekitar GBK menjadi kondisi yang relevan bagi penyelenggaraan acara, sementara hujan tercatat di sejumlah kawasan lain. Pernyataan mengenai potensi gangguan itu tidak berarti konser pasti akan terganggu; Pramono menjelaskan kemungkinan yang dapat timbul apabila hujan terjadi di area acara. Konser terbuka dapat terdampak oleh cuaca, sehingga kondisi setempat menjadi perhatian bagi penyelenggara maupun pengunjung. Rangkaian keterangan Pramono mencakup dua hal yang berlangsung bersamaan: OMC yang diarahkan selama dua hari dan hujan yang turun secara terbatas di beberapa wilayah. Informasi tersebut menggambarkan variasi cuaca di Jakarta, termasuk perbedaan kawasan perbatasan dan lokasi konser di GBK, tanpa menyatakan bahwa hujan terjadi merata di seluruh wilayah ibu kota pada malam itu.
Pramono menyatakan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) dapat kembali dilaksanakan apabila kondisi atmosfer mendukung, terutama ketika tersedia awan yang cukup untuk menjadi sasaran penyemaian. Pelaksanaan kegiatan tersebut, menurutnya, bergantung pada keadaan cuaca dan ketersediaan awan, sehingga tidak dapat dilakukan tanpa mempertimbangkan kondisi di lapangan. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta telah mengalokasikan anggaran untuk mendukung kegiatan OMC. Dengan adanya alokasi itu, pemerintah daerah memiliki dukungan pendanaan apabila operasi kembali diperlukan dan kondisi alam memungkinkan pelaksanaannya.
Pramono juga menyampaikan penilaiannya bahwa kualitas udara Jakarta mengalami perbaikan dan tingkat polusi menurun. Ia mengaitkan perkembangan tersebut dengan pelaksanaan modifikasi cuaca yang berjalan beriringan dengan perubahan kondisi udara, tanpa menyebut OMC sebagai satu-satunya penyebab penurunan polusi. Kualitas udara dapat dipengaruhi berbagai keadaan, termasuk faktor cuaca dan aktivitas manusia.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Dukung Operasi Modifikasi Cuaca, Perkuat Upaya Penanganan Karhutla Kalimantan | Panglima TNI Kunjungi ITS Giuseppe Garibaldi di Jakarta | Sambut HUT ke-81 TNI, Bhakti Kesehatan TNI Layani Masyarakat di Jakarta






