Jakarta | Mekanisasi pertanian di Indonesia terus berkembang seiring upaya meningkatkan efisiensi kegiatan budidaya, termasuk dalam produksi padi. Kementerian Pertanian menyebut petani kini dapat memanfaatkan beberapa pendekatan untuk menanam, menyesuaikan pilihan dengan kondisi lahan dan kebutuhan usaha tani. Perkembangan ini menunjukkan bahwa modernisasi tidak hanya bergantung pada satu jenis alat atau teknik. Beragam metode penanaman dapat digunakan sebagai bagian dari proses kerja yang lebih efektif, dengan tetap mempertimbangkan keadaan di lapangan.
Kepala Badan Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian Tanaman Padi Kementan, Amin Nur, menjelaskan bahwa metode yang digunakan mencakup tanam benih langsung atau tabela, penggunaan drone seeder, serta tanam pindah. Tabela dilakukan dengan menaburkan benih langsung ke lahan, sementara tanam pindah melibatkan penyemaian terlebih dahulu sebelum bibit dipindahkan ke petak sawah. Drone seeder memanfaatkan pesawat tanpa awak untuk membantu menebarkan benih. Ketiganya merupakan pilihan yang dapat menunjang kegiatan penanaman padi melalui cara yang berbeda.
Keberadaan sejumlah metode tersebut memberi gambaran tentang arah mekanisasi pertanian yang semakin beragam. Pemilihan teknik dapat berkaitan dengan skala lahan, ketersediaan tenaga kerja, kondisi sawah, serta kesiapan petani untuk menggunakan teknologi. Peralatan mekanis juga perlu diterapkan sesuai kebutuhan, sehingga manfaatnya dapat mendukung pekerjaan tanpa mengabaikan pengelolaan budidaya. Dalam konteks ini, mekanisasi bukan sekadar menghadirkan mesin, melainkan mencakup pemanfaatan teknologi yang sesuai pada tahapan produksi.
Amin juga menyampaikan bahwa Menteri Pertanian mendorong penggunaan drone di sektor pertanian. Dorongan tersebut sejalan dengan pemanfaatan drone seeder sebagai salah satu cara untuk membantu penanaman padi. Keterangan itu disampaikan Amin dalam acara World Food Day pada Jumat, 30 Oktober 2026. Pernyataan tersebut menegaskan perhatian pemerintah terhadap penerapan teknologi dalam pertanian, sekaligus menunjukkan bahwa mekanisasi terus bergerak melalui berbagai metode. Perkembangannya diharapkan dapat memperluas pilihan bagi pelaku usaha tani dalam mengelola kegiatan penanaman secara lebih modern dan terarah.
Kementerian Pertanian tengah mengembangkan secara masif Pertanian Modern–Advanced Agriculture System (PM-AAS) sebagai salah satu upaya mendorong perubahan dalam pertanian padi Indonesia. Program ini menjadi bagian dari perhatian terhadap penerapan pertanian modern di tengah kebutuhan untuk memperkuat kegiatan budidaya dan mendukung petani. Pengembangannya tidak hanya berkaitan dengan pengenalan sistem, tetapi juga membutuhkan keterlibatan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan pelaksanaan pertanian di lapangan.
Menurut Amin, penerapan PM-AAS akan disertai pendampingan pada setiap musim. Pendampingan yang berkelanjutan ini dimaksudkan agar petani dan penyuluh dapat bekerja bersama selama proses penerapan. Dengan demikian, upaya mengembangkan program tidak berhenti pada penyampaian informasi, melainkan memberi ruang bagi petani dan penyuluh untuk bersinergi dalam menjalankan sistem tersebut di masyarakat.
Keterlibatan petani dan penyuluh menjadi penting karena perluasan pelaksanaan program membutuhkan komunikasi dan kerja sama. Pendampingan setiap musim dapat menjadi kesempatan untuk menyelaraskan langkah, membahas pelaksanaan, serta mendorong keterlibatan masyarakat secara bertahap. Dalam proses tersebut, penyuluh dapat mendampingi petani, sementara pengalaman petani menjadi bagian dari interaksi yang berlangsung di lapangan. Pola kerja bersama ini diharapkan membantu penerapan PM-AAS berkembang secara lebih luas.
Pengembangan secara masif dan pendampingan yang berlangsung tiap musim menunjukkan bahwa perluasan PM-AAS membutuhkan proses yang berkelanjutan. Petani dan penyuluh diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri, tetapi membangun sinergi agar pelaksanaan sistem dapat diperluas di tengah masyarakat. Pendekatan pendampingan tersebut menempatkan kerja sama sebagai unsur penting dalam penerapan program. Dengan dukungan kolaborasi yang terus dijaga, PM-AAS diarahkan untuk menjangkau lebih banyak masyarakat pertanian. Perluasan ini tetap memerlukan keterlibatan para pihak dalam setiap musim, sehingga upaya pengembangan dapat terhubung dengan pelaksanaan di lapangan dan berlangsung secara berkesinambungan.
Pilot project PM-AAS yang direncanakan pada 2026 akan mencakup sekitar 2.000 hektare lahan dan tersebar di 15 provinsi. Rencana ini menjadi tahap percontohan untuk menguji penerapan metode tersebut di berbagai wilayah sebelum pengembangannya diperluas. Luasan sasaran yang disampaikan masih berupa perkiraan, karena capaian tiap provinsi dapat berbeda sesuai kesiapan lahan dan pelaksanaan di lapangan.
Amin menyampaikan bahwa setiap provinsi diharapkan dapat mencetak sawah hingga 100 hektare. Pada saat yang sama, dua hingga tiga provinsi diperkirakan mampu mencapai luasan yang lebih besar, yakni sekitar 300–400 hektare per provinsi. Dengan kombinasi sasaran tersebut, total lahan dalam pilot project diharapkan mencapai kurang lebih 2.000 hektare atau bahkan lebih.
Angka-angka itu menunjukkan bahwa target tidak dibagi secara merata ke seluruh provinsi. Sebagian wilayah dapat berkontribusi melalui luasan sekitar 100 hektare, sementara beberapa wilayah lain ditargetkan menjadi lokasi dengan cakupan lebih luas. Namun, nama provinsi yang akan terlibat belum disebutkan dalam keterangan yang tersedia. Karena itu, penetapan lokasi secara spesifik belum dapat dipastikan dan tidak sebaiknya diasumsikan sebelum ada informasi resmi lebih lanjut.
Amin juga membandingkan kepadatan populasi tanaman metode tanam biasa dan PM-AAS. Metode biasa disebut memiliki populasi sekitar 250.000–300.000 per hektare, sedangkan PM-AAS diklaim dapat meningkatkan jumlahnya menjadi sekitar 800.000 hingga 1 juta per hektare. Perbandingan tersebut menjadi salah satu aspek yang akan dicermati dalam percontohan, termasuk bagaimana penerapannya pada kondisi lahan yang berbeda.
Melalui pelaksanaan di 15 provinsi, pilot project dapat menyediakan pengalaman lapangan untuk menilai proses pencetakan sawah dan metode tanam yang digunakan. Hasilnya kelak dapat membantu pemangku kepentingan memahami capaian, kendala, serta kebutuhan dukungan sebelum mempertimbangkan perluasan program. Untuk saat ini, sasaran sekitar 2.000 hektare dan perbedaan populasi tanaman merupakan rencana dan perbandingan yang disampaikan Amin, bukan hasil akhir yang telah terverifikasi dari pelaksanaan program.
Dalam penjelasannya, Amin membandingkan hasil panen padi konvensional yang disebut sebesar 6,32 ton dengan capaian dari penerapan PM-AAS. Angka tersebut menggambarkan perbedaan hasil yang ia sampaikan, bukan patokan yang otomatis berlaku bagi seluruh petani atau setiap petak sawah. Menurut Amin, PM-AAS dapat menghasilkan lebih dari 10 ton per hektare. Di sejumlah tempat, ia menyebut capaian bahkan dapat mencapai 13 ton per hektare. Perbedaan angka itu perlu dipahami sebagai hasil yang dilaporkan dalam kondisi tertentu, bukan sebagai jaminan bahwa penerapan metode yang sama akan memberikan hasil serupa di semua lokasi.
Amin juga merujuk pada pilot project yang dilaksanakan di lahan rawa maupun lahan irigasi di 15 provinsi. Dari kegiatan tersebut, hasil tertinggi yang dilaporkan mencapai 12,5 ton gabah kering panen (GKP) per hektare. Capaian ini menunjukkan hasil yang dicatat dalam proyek percontohan, dengan jenis lahan dan pelaksanaan yang beragam. Angka 12,5 ton GKP per hektare juga perlu dibedakan dari angka 13 ton per hektare yang disebut dapat dicapai di beberapa tempat. Keduanya merupakan angka dalam penjelasan Amin, dan tidak dengan sendirinya menggambarkan hasil rata-rata seluruh area yang menerapkan PM-AAS.
Dengan demikian, angka konvensional 6,32 ton, capaian di atas 10 ton, potensi 13 ton di beberapa lokasi, serta hasil tertinggi 12,5 ton GKP per hektare dari pilot project sebaiknya dibaca sesuai konteks penyampaiannya. Hasil panen dapat dipengaruhi oleh keadaan lahan, ketersediaan air, cuaca, pengelolaan tanaman, serta konsistensi penerapan praktik budidaya.
Baca juga: Sinergi Babinsa dan PPL Pertanian dalam Pengubinan Menjelang Panen Padi






