Kabupaten Kotawaringin Barat | Gubernur Kalimantan Tengah Agustian Sabran menuai kritik setelah menyelipkan gurauan ketika ditanya mengenai solusi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda wilayahnya. Pernyataan tersebut disampaikan dalam sebuah video yang kemudian beredar secara viral pada Selasa, 13 Oktober. Video itu memperlihatkan momen ketika gubernur merespons pertanyaan tentang penanganan karhutla di Kalimantan Tengah, saat kebakaran hutan dan lahan menjadi persoalan yang dibahas.
Dalam pernyataannya, Agustian Sabran menyebut sebagian besar karhutla disebabkan oleh ulah manusia. Ia menyampaikan angka sekitar 97 persen sebagaimana terdengar dalam video tersebut. Pernyataan itu menjadi bagian utama dari tanggapannya ketika ia ditanya mengenai solusi untuk menangani kebakaran hutan dan lahan yang melanda wilayah Kalimantan Tengah. Potongan video tersebut kemudian tersebar dan mendapat perhatian setelah dibagikan secara luas.
Setelah menyampaikan angka tersebut, Agustian Sabran mengajak agar penanganan karhutla dilakukan melalui kebersamaan. Ia menekankan perlunya upaya bersama dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Pada bagian akhir pernyataannya, ia menyelipkan ungkapan, “karena bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi”. Gurauan itu kemudian menjadi sorotan dan memicu kritik, terutama karena disampaikan ketika pembahasan mengenai solusi karhutla sedang berlangsung. Video pernyataan tersebut tetap beredar secara viral pada Selasa, 13 Oktober.
Anggota Komisi IV DPR RI dari daerah pemilihan Kalimantan Barat, Daniel Johan, turut menyoroti cara komunikasi pemimpin ketika masyarakat menghadapi bencana kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Menurut dia, kondisi kabut asap yang memburuk semestinya mendorong pejabat untuk menunjukkan empati, bukan menyampaikan pernyataan yang berpotensi dianggap meremehkan penderitaan warga.
Daniel menilai pemimpin memiliki tanggung jawab moral untuk memahami situasi masyarakat sebelum menyampaikan ucapan di ruang publik. Ketika warga harus berhadapan dengan gangguan kesehatan, terbatasnya aktivitas, serta kekhawatiran terhadap keselamatan akibat asap, setiap pernyataan pejabat dapat menimbulkan reaksi yang kuat. Karena itu, pejabat tidak seharusnya mengeluarkan ucapan yang memicu ketidaksukaan publik di tengah penderitaan akibat kabut asap.
Ia memahami bahwa ucapan yang dipersoalkan tersebut mungkin dimaksudkan sebagai candaan. Namun, Daniel menegaskan bahwa maksud bercanda tidak otomatis membuat penyampaian itu menjadi tepat. Waktu, tempat, dan keadaan masyarakat perlu dipertimbangkan secara serius. Candaan yang disampaikan ketika suatu daerah sedang mengalami musibah dapat dipersepsikan sebagai bentuk ketidakpekaan, terlebih apabila berasal dari seorang pemimpin yang diharapkan hadir untuk memberikan perlindungan dan ketenangan.
Daniel berharap para pemimpin lebih berhati-hati dalam berkomunikasi, terutama saat bencana karhutla masih berlangsung dan kabut asap memengaruhi kehidupan masyarakat. Empati, menurutnya, perlu diwujudkan bukan hanya melalui pilihan kata, tetapi juga melalui tindakan nyata. Pemimpin diharapkan membantu menangani persoalan karhutla, memperkuat upaya penanggulangan, serta memastikan kebutuhan warga terdampak mendapat perhatian. Dengan demikian, komunikasi publik dapat membangun kepercayaan sekaligus menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Anggota Komisi II DPR dari Fraksi Golkar, Ahmad Irawan, menilai komunikasi pejabat publik harus mempertimbangkan kondisi psikologis masyarakat, terutama ketika bencana sedang berlangsung. Pernyataan yang disampaikan kepala daerah, menurut dia, tidak dapat dilepaskan dari situasi yang dihadapi warga. Dalam konteks kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta memburuknya kabut asap, masyarakat membutuhkan perhatian, kepastian, dan dukungan, bukan ucapan yang berpotensi dianggap meremehkan penderitaan mereka.
Ahmad mengingatkan bahwa empati menjadi unsur penting dalam komunikasi pemerintahan. Empati tidak sekadar menyampaikan simpati secara formal, tetapi juga berupaya memahami dan merasakan emosi warga yang terdampak langsung. Mereka mungkin mengalami gangguan kesehatan, kesulitan beraktivitas, kekhawatiran terhadap keselamatan keluarga, hingga kerugian ekonomi. Karena itu, setiap pernyataan pejabat sebaiknya disampaikan dengan kehati-hatian, bahasa yang menenangkan, serta menunjukkan keberpihakan kepada masyarakat.
Ia berpandangan, kepala daerah seharusnya membangun optimisme publik melalui keyakinan bahwa karhutla dapat ditangani hingga benar-benar padam. Optimisme tersebut perlu disertai informasi yang jelas mengenai langkah penanganan, koordinasi antarinstansi, dan perlindungan bagi warga. Dengan cara itu, masyarakat tidak hanya memperoleh harapan, tetapi juga memahami bahwa pemerintah bekerja secara terukur untuk mengendalikan bencana dan mengurangi dampaknya.
Kritik terhadap Gubernur Kalimantan Tengah diharapkan menjadi bahan evaluasi bagi seluruh kepala daerah. Ahmad menilai, pengalaman tersebut dapat menjadi pelajaran bahwa gaya komunikasi dalam situasi bencana memiliki konsekuensi besar terhadap kepercayaan masyarakat. Pejabat publik perlu menempatkan keselamatan dan perasaan warga sebagai pertimbangan utama sebelum menyampaikan candaan atau komentar tertentu. Sikap yang empatik, optimistis, dan bertanggung jawab akan membantu menjaga ketenangan publik sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya penanganan karhutla.
Kondisi kabut asap di Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, dilaporkan semakin memburuk. Asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tampak semakin pekat, terutama pada waktu pagi hingga siang hari. Lapisan kabut yang menyelimuti kawasan tersebut membuat langit terlihat menguning dan jarak pandang warga menjadi terbatas. Situasi itu terlihat di sejumlah wilayah yang terdampak sebaran asap dari titik-titik kebakaran di sekitar kabupaten.
Perubahan kondisi udara tersebut turut dirasakan langsung oleh masyarakat. Sejumlah warga mengeluhkan gangguan pernapasan, seperti batuk, sesak, dan tenggorokan terasa perih. Keluhan lain yang muncul adalah iritasi mata, terutama ketika warga beraktivitas di luar ruangan dalam waktu cukup lama. Pekatnya asap juga mendorong sebagian masyarakat mengurangi kegiatan di luar rumah serta menggunakan masker sebagai perlindungan tambahan.
Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kotawaringin Barat, konsentrasi partikel halus PM2.5 menunjukkan bahwa kualitas udara berada dalam kategori sangat berbahaya. Partikel tersebut berukuran sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan. Karena itu, paparan asap karhutla dalam kondisi demikian berpotensi meningkatkan risiko kesehatan, khususnya bagi anak-anak, lanjut usia, serta warga yang memiliki penyakit pernapasan.
Petugas BMKG Kotawaringin Barat, Afif Rowina Khairim, mengatakan pada Selasa, 13 Oktober, bahwa data pantauan PM2.5 selaras dengan kondisi asap karhutla yang semakin tebal. Peningkatan konsentrasi partikel halus tersebut mencerminkan memburuknya kualitas udara di lapangan, seiring asap yang terus menyelimuti wilayah Kotawaringin Barat dan membuat langit tampak menguning.
Baca juga: Gelap Malam Tak Jadi Penghalang, Satgas Karhutla Lanud Sjamsudin Noor Kembali Berjibaku Hadang Karhutla Hingga Dini Hari | Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | Pastikan Sumber Air Karhutla Tetap Andal, Personel Lanud Sjamsudin Noor Siaga 24 Jam Dukung Kesiapan dan Operasi Penanganan Karhutla
