Jakarta | Aktris Marsha Aruan kehilangan ibundanya, Lisa Diana Tambunan, yang meninggal dunia pada Senin, 19 Oktober 2026. Kabar duka tersebut menandai kepergian sosok ibu dalam kehidupan Marsha. Dua hari setelah meninggal, Lisa dimakamkan pada Rabu, 21 Oktober 2026, di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan. Pemakaman itu menjadi kesempatan bagi Marsha untuk mengenang sang ibu dan menyampaikan kesan tentang pribadi Lisa.
Di pemakaman, Marsha mengenang Lisa sebagai sosok yang baik kepada siapa saja. Kenangan tersebut menegaskan bahwa kebaikan ibunya tidak hanya dirasakan dalam lingkup keluarga, tetapi juga menjadi sifat yang melekat dalam hubungannya dengan orang lain. Marsha menyampaikan gambaran itu saat melepas kepergian sang ibu. Ucapannya memberikan perhatian pada karakter Lisa, yakni pribadi yang dikenal berbuat baik kepada banyak orang.
Kenangan Marsha tentang kebaikan Lisa menjadi bagian penting dari perpisahan tersebut. Dalam momen pemakaman, ia tidak hanya mengenang hubungan ibu dan anak, tetapi juga menyampaikan kesan mengenai bagaimana ibunya memperlakukan siapa pun. Pernyataan itu menggambarkan Lisa melalui sikap yang dianggap membekas bagi orang-orang di sekitarnya. Meski kehilangan ibunda menjadi peristiwa personal bagi Marsha, kenangan yang ia sampaikan berpusat pada kebaikan Lisa kepada siapa saja.
Lisa dimakamkan di TPU Tanah Kusir, Jakarta Selatan, pada Rabu, 21 Oktober 2026, setelah meninggal pada Senin, 19 Oktober 2026. Dalam kesempatan itu, Marsha mengenang ibunya sebagai pribadi yang baik kepada siapa saja. Kesan tersebut menjadi inti dari kenangan yang disampaikan Marsha saat pemakaman. Dengan mengungkapkan hal itu, ia menghadirkan gambaran tentang Lisa yang sederhana dan jelas: seorang ibu yang kebaikannya membekas bagi banyak orang. Kenangan tersebut menyertai perpisahan keluarga dengan Lisa.
Bagi banyak teman Marsha Aruan, Lisa Diana Tambunan dikenal sebagai pribadi yang ramah dan mudah membuat orang merasa diterima. Keramahan itu tampak dalam kebiasaannya menyapa orang-orang yang berada di sekitar Marsha. Sapaan sederhana tersebut menjadi bagian dari kesan yang melekat bagi mereka, terutama karena Lisa tidak hanya hadir sebagai ibu Marsha, tetapi juga berinteraksi dengan teman-teman putrinya secara hangat. Melalui sikapnya itu, Lisa membangun hubungan yang terasa akrab dengan banyak orang yang dijumpainya. Teman-teman Marsha pun memiliki kesempatan untuk mengenal Lisa secara langsung, bukan sekadar mengetahui sosoknya melalui cerita. Sikap ramahnya membuat pertemuan sehari-hari terasa berarti dan meninggalkan ingatan baik bagi mereka.
Lisa juga kerap menemani Marsha ketika putrinya menjalani kegiatan syuting. Kehadiran tersebut memperlihatkan kedekatan mereka sekaligus memberi kesempatan bagi Lisa untuk bertemu dengan orang-orang di lingkungan kerja Marsha. Dalam situasi itu, Lisa tetap menyempatkan diri menyapa teman-teman yang ada di sekitar putrinya. Marsha mengaku senang melihat ibunya dekat dengan orang-orang di sekelilingnya. Baginya, hubungan yang terjalin Lisa dan teman-temannya menjadi hal yang menyenangkan untuk disaksikan. Kedekatan itu tidak muncul hanya dalam satu pertemuan, melainkan tercermin dari kebiasaan Lisa hadir, menyapa, dan menemani Marsha. Sikap tersebut membuat orang lain memiliki pengalaman tersendiri bersama Lisa.
Marsha memahami bahwa setiap orang menyimpan kenangan masing-masing tentang ibunya. Kenangan itu terbentuk melalui pengalaman yang berbeda, sesuai dengan pertemuan dan hubungan yang pernah mereka jalani bersama Lisa. Ada yang mengingat keramahan serta sapaan Lisa, sementara yang lain mungkin mengenang kebersamaannya saat menemani Marsha bekerja. Marsha menilai pengalaman-pengalaman tersebut sebagai kenangan yang berkesan dan baik. Dengan begitu, sosok Lisa dikenang bukan hanya melalui hubungan keluarganya dengan Marsha, tetapi juga melalui kebaikan yang dirasakan orang-orang di sekitarnya. Berbagai ingatan itu menunjukkan bahwa kehadiran Lisa memberi arti bagi banyak orang, termasuk teman-teman Marsha yang pernah berjumpa dan berinteraksi dengannya dalam beragam kesempatan.
Marsha Aruan mengenang bahwa saat masih kecil, ia pernah mempertanyakan sikap ibunya, Lisa Diana Tambunan, ketika melihat sang ibu terus berbuat baik kepada orang lain. Sebagai anak, Marsha menyaksikan Lisa memberikan perhatian dan bantuan dengan tulus, tetapi tidak semua kebaikan itu selalu dibalas dengan perlakuan yang sama baiknya. Ada kalanya orang yang menerima kebaikan justru bersikap tidak menyenangkan kepada Lisa. Pemandangan seperti itu membuat Marsha heran sekaligus sedih, karena ia merasa ibunya tidak seharusnya diperlakukan demikian setelah berusaha membantu.
Dalam kenangannya, protes Marsha muncul dari sudut pandang seorang anak yang ingin melindungi ibunya. Ia mempertanyakan mengapa Lisa masih mau berbuat baik kepada orang-orang yang pernah mengecewakannya atau tidak membalas kebaikan dengan sikap yang pantas. Pertanyaan tersebut bukan berarti Marsha tidak memahami sifat ibunya, melainkan reaksi spontan saat menyaksikan seseorang yang ia sayangi menghadapi perlakuan kurang menyenangkan. Sebagai anak, ia mungkin berharap Lisa berhenti memberi perhatian kepada orang-orang yang tidak menghargainya. Namun, Lisa memiliki cara pandang dan keteguhan sendiri dalam menjalani hubungan dengan sesama.
Protes itu ternyata tidak mengubah sikap Lisa. Ia tetap dikenal sebagai sosok yang suka menolong, baik, dan tulus kepada semua orang. Kebaikan yang diberikan tidak bergantung pada bagaimana orang lain membalasnya; Lisa tetap memilih membantu karena itulah karakter yang melekat pada dirinya. Bagi Marsha, ketulusan tersebut menjadi bagian penting dari sosok ibunya yang selalu dikenang. Ia melihat bahwa kebaikan Lisa bukan sekadar tindakan sesaat, melainkan kebiasaan yang terus dibawa dalam kehidupan sehari-hari. Sifat inilah yang membuat banyak orang merasa kehilangan setelah Lisa tiada. Mereka bukan hanya mengingat bantuan yang pernah diterima, tetapi juga kehangatan dan ketulusan yang Lisa hadirkan. Kenangan Marsha tentang protes masa kecil itu pun memperlihatkan betapa kuatnya karakter sang ibu: tetap berbuat baik, bahkan ketika balasan yang diterima tidak selalu menyenangkan.
Bagi Marsha Aruan, kenangan tentang Lisa Diana Tambunan tidak hanya hadir melalui kebaikan yang pernah ia terima, tetapi juga melalui nilai-nilai yang ditanamkan sebagai bekal hidup. Marsha mengakui bahwa ibunya mengajarkan pentingnya berbuat baik kepada orang lain, menjaga iman tetap kuat, dan senantiasa percaya kepada Tuhan Yesus. Pesan-pesan itu menjadi bagian dari hal yang ia bawa dalam menjalani kehidupan. Di tengah kenangan terhadap Lisa, Marsha melihat bahwa teladan seorang ibu dapat terus terasa lewat sikap dan prinsip yang diwariskan kepada anak-anaknya. Kebaikan, iman, serta kepercayaan kepada Tuhan menjadi pelajaran yang ia kenang dari sosok ibunya.
Marsha juga menyampaikan rasa syukurnya karena Lisa menjadi ibunya. Ungkapan tersebut memperlihatkan betapa besar tempat Lisa dalam hidupnya, bukan hanya sebagai orang tua, melainkan juga sebagai sosok yang mengajarkan nilai-nilai penting. Marsha mengenang ajaran itu dengan menyebut kebaikan dan iman sebagai hal yang terus ia pegang. Ia pun mengingatkan bahwa kepercayaan kepada Tuhan Yesus merupakan bagian dari pelajaran yang diterimanya bersama sang adik, Michelle. Kenangan tersebut berkaitan dengan pesan dan teladan Lisa, yang tetap membekas bagi kedua anaknya. Rasa syukur Marsha atas kehadiran Lisa sebagai ibu menjadi bagian dari kenangan yang ia sampaikan tentang kebaikan yang telah diberikan.
Michelle juga mengingat pesan ibunya mengenai cara memperlakukan sesama. Menurut Michelle, pesan yang paling ia ingat adalah ajakan untuk berbuat baik kepada siapa pun tanpa membeda-bedakan. Pesan itu menegaskan bahwa kebaikan tidak seharusnya dibatasi oleh perbedaan di orang-orang.




