Pemetaan Berbasis AI Jadi Langkah Awal Pemulihan Pascabanjir di Aceh Tamiang

Pemetaan Berbasis AI Jadi Langkah Awal Pemulihan Pascabanjir di Aceh Tamiang

Kabupaten Aceh Tamiang | Kementerian Ekonomi Kreatif mendorong pemulihan ekonomi masyarakat Kabupaten Aceh Tamiang setelah banjir melalui pemetaan kondisi wilayah. Upaya ini diarahkan untuk menghimpun informasi mengenai keadaan infrastruktur dan kebutuhan masyarakat di lapangan, sehingga proses pemulihan dapat disusun berdasarkan situasi yang nyata. Pemetaan menjadi penting karena dampak bencana dapat berbeda satu lokasi dan lokasi lainnya. Informasi yang tersusun secara lebih terarah membantu pemerintah daerah melihat wilayah terdampak secara menyeluruh, termasuk kondisi akses, fasilitas pendukung kegiatan warga, serta kebutuhan yang perlu ditangani agar kehidupan dan aktivitas ekonomi berangsur pulih.

Data hasil pemetaan diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah daerah dalam menentukan prioritas rehabilitasi. Dengan gambaran yang lebih lengkap, pemerintah dapat menilai lokasi yang memerlukan penanganan segera dan memahami jenis dukungan yang dibutuhkan masyarakat. Langkah ini juga dapat membantu menghubungkan pemulihan infrastruktur dengan upaya menggerakkan kembali kegiatan ekonomi setempat. Akses dan fasilitas yang berfungsi merupakan bagian penting agar warga dapat menjangkau layanan, menjalankan usaha, serta mendistribusikan barang dan hasil produksi. Karena itu, pemetaan tidak hanya mencatat kerusakan, tetapi juga membantu menyusun arah intervensi yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing wilayah.

Direktur Kreativitas Teknologi Kementerian Ekonomi Kreatif, Dandy Yudha Feryawan, menyampaikan bahwa pemetaan merupakan langkah awal untuk menghimpun gambaran kondisi dan kebutuhan daerah. Pernyataan tersebut menempatkan pemetaan sebagai dasar untuk memahami situasi pascabanjir sebelum langkah rehabilitasi dirancang lebih lanjut. Informasi lapangan yang terkumpul dapat memperkaya proses pengambilan keputusan dan membantu pemerintah daerah menentukan kebutuhan yang paling mendesak. Pendekatan ini memberi ruang bagi pemulihan yang lebih terarah, karena tindakan dapat mempertimbangkan kondisi faktual, bukan semata perkiraan umum. Dengan demikian, pemetaan di Aceh Tamiang diharapkan mendukung penentuan prioritas penanganan sekaligus menjadi pijakan bagi pemulihan ekonomi masyarakat secara bertahap.

Pemetaan kebutuhan pemulihan di Aceh Tamiang dilaksanakan melalui program Ekraf Peduli: Infrastructure Rehabilitation and Priority Profiling pada 14–16 Oktober 2026. Kegiatan ini menghadirkan perusahaan rintisan teknologi dalam negeri Niriksagara sebagai mitra untuk mendukung proses pengumpulan dan pengolahan informasi di lapangan. Pelibatan startup tersebut mencerminkan upaya menghubungkan keahlian teknologi dengan kebutuhan nyata daerah yang terdampak banjir. Dalam konteks pemulihan, informasi mengenai kondisi infrastruktur dan kegiatan ekonomi menjadi dasar untuk memahami tingkat kerusakan, mengenali kebutuhan prioritas, serta menyusun langkah lanjutan secara lebih terarah. Karena itu, pemetaan tidak hanya berfungsi sebagai pencatatan kondisi, tetapi juga sebagai bagian awal dari proses perencanaan rehabilitasi.

Niriksagara memanfaatkan kecerdasan artifisial untuk membantu pemetaan infrastruktur dan aktivitas ekonomi. Teknologi ini mendukung penataan data yang dihimpun, sehingga gambaran mengenai kondisi wilayah dapat disusun dengan lebih sistematis. Informasi terkait infrastruktur dapat membantu menunjukkan bagian yang memerlukan perhatian, sementara data aktivitas ekonomi memberi konteks tentang kegiatan masyarakat dan mata pencaharian yang terdampak. Penggunaan AI dalam proses tersebut bukan pengganti penilaian para pemangku kepentingan maupun verifikasi di lapangan. Sebaliknya, teknologi berperan sebagai alat bantu untuk mengolah informasi dan memudahkan pembacaan pola, agar pihak terkait memiliki bahan yang lebih memadai ketika menentukan kebutuhan pemulihan. Pendekatan ini juga membuka ruang bagi pemanfaatan inovasi lokal dalam penanganan persoalan pascabencana.

Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) berharap inovasi teknologi seperti yang dikembangkan Niriksagara dapat membantu menjawab persoalan konkret di daerah. Harapan tersebut mencakup dukungan terhadap proses identifikasi kebutuhan, penyusunan prioritas, serta penyediaan informasi yang relevan bagi perencanaan rehabilitasi. Selain membantu pelaksanaan program, hasil pemetaan diharapkan dapat memperkuat basis data pemerintah setempat. Basis data yang lebih terstruktur dapat menjadi rujukan untuk memahami kondisi wilayah, mengoordinasikan tindak lanjut, dan memperbarui informasi seiring berlangsungnya pemulihan. Dengan demikian, kolaborasi dalam Ekraf Peduli menggabungkan pemahaman lokal, kebutuhan pemerintah, dan kemampuan teknologi dalam satu proses. Pendekatan berbasis data ini diharapkan memberi landasan yang lebih jelas bagi upaya pemulihan Aceh Tamiang, sekaligus menunjukkan bagaimana startup teknologi dalam negeri dapat berkontribusi pada tantangan pembangunan daerah.

Dalam pemetaan berbasis AI di Aceh Tamiang, tim mengidentifikasi sejumlah lokasi dengan fungsi dan karakteristik yang berbeda. Titik-titik yang menjadi perhatian mencakup Tamiang Sport Center, gedung amphiteater, area persawahan Paya Udang, akses jalan menuju Pantai Pulau Rukui dan Pemandian Dam Rengas, serta kawasan pusat pemerintahan. Ragam lokasi tersebut membuat pemetaan tidak hanya berfokus pada satu jenis fasilitas, tetapi juga mencakup ruang publik, pertanian, jalur menuju destinasi, dan kawasan administrasi.

Pendataan di berbagai kawasan itu ditujukan untuk membantu memahami kebutuhan rehabilitasi dengan mempertimbangkan kondisi dan peran tiap wilayah. Informasi mengenai lokasi serta hubungan antartitik dapat menjadi bahan untuk melihat prioritas penanganan secara lebih terarah. Kebutuhan pada area persawahan, misalnya, perlu dipahami dalam kaitannya dengan kegiatan pertanian, sementara fasilitas publik dan kawasan pemerintahan memiliki fungsi yang berbeda dalam mendukung aktivitas masyarakat. Pemetaan menyediakan gambaran awal untuk menyusun pertimbangan tersebut, tanpa mengasumsikan tingkat kerusakan tertentu pada lokasi yang didata.

Perhatian terhadap akses jalan menuju Pantai Pulau Rukui dan Pemandian Dam Rengas juga menegaskan pentingnya konektivitas. Aksesibilitas berhubungan dengan kemampuan warga maupun pengunjung untuk mencapai suatu kawasan dan menjalankan kegiatan di dalamnya. Karena itu, informasi jalur dapat menjadi bagian dari perencanaan pemulihan, terutama ketika rehabilitasi perlu mempertimbangkan keterhubungan permukiman, fasilitas, dan tujuan perjalanan. Hal ini relevan bagi keberlangsungan aktivitas yang terkait dengan pariwisata, sekaligus mobilitas masyarakat setempat.

Demikian pula, kondisi akses dan infrastruktur di sekitar persawahan Paya Udang berkaitan dengan kelancaran kegiatan pertanian, sedangkan fasilitas seperti Tamiang Sport Center dan gedung amphiteater mendukung fungsi sosial dan kegiatan publik. Kawasan pusat pemerintahan turut memiliki peran dalam penyelenggaraan layanan dan koordinasi. Dengan memetakan lokasi-lokasi tersebut, tim dapat menempatkan kebutuhan rehabilitasi dalam konteks fungsi wilayah, sehingga proses pemulihan dapat mempertimbangkan keterkaitan infrastruktur, akses, serta aktivitas masyarakat di Aceh Tamiang.

Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda, dan Olahraga Kabupaten Aceh Tamiang, Muhammad Farij, menyambut baik kegiatan pemetaan berbasis teknologi yang dilakukan Kementerian Ekonomi Kreatif bersama pemerintah daerah. Menurutnya, upaya tersebut dapat membantu menghadirkan gambaran yang lebih terarah mengenai kondisi wilayah setelah banjir, sekaligus membuka ruang bagi perangkat daerah untuk menyampaikan informasi sesuai bidang masing-masing. Keterlibatan berbagai pihak dinilai penting agar proses pemulihan berangkat dari keadaan nyata dan kebutuhan masyarakat di lapangan.

Farij menekankan bahwa setiap perangkat daerah perlu memberikan informasi mengenai kondisi wilayah serta kebutuhan penanganan berdasarkan tugas dan kewenangannya. Data dan masukan dari instansi terkait dapat mencakup persoalan maupun prioritas yang berada dalam lingkup tanggung jawab masing-masing. Dengan demikian, pemetaan tidak hanya menjadi gambaran umum mengenai dampak bencana, tetapi juga dapat memperlihatkan kebutuhan lintas sektor secara lebih utuh. Informasi yang dihimpun dari pemerintah daerah diharapkan membantu pihak-pihak yang terlibat memahami situasi setempat sebelum merumuskan langkah tindak lanjut.

Ia berharap hasil pemetaan dapat menjadi bahan pertimbangan dalam pembahasan prioritas penanganan pascabanjir. Hasil tersebut juga diharapkan mendukung koordinasi pemerintah daerah, Kemenekraf, dan pemangku kepentingan lain agar pembahasan kebutuhan serta rencana tindak lanjut berlangsung dengan lebih terarah. Penentuan prioritas tetap memerlukan komunikasi antarpihak dan penyesuaian dengan kewenangan masing-masing, sehingga rekomendasi yang muncul dapat dipertimbangkan sesuai kondisi Aceh Tamiang.

Baca juga: Program AITF Kemkomdigi Dorong Mahasiswa Siap Menghadapi Dunia Kerja Berbasis AI | Ombudsman Dalami Langkah Lanjutan atas Dugaan Pungli di Lapas Cibinong | Langkah Dinkes Palangka Raya Menjaga Warga di Tengah Kabut Asap

25 kunjungan