Radja Nainggolan Ungkap Pilihan Awal hingga Bayaran Besar di Bhayangkara FC

Radja Nainggolan Ungkap Pilihan Awal hingga Bayaran Besar di Bhayangkara FC

Jakarta | Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa keterlibatannya dalam sepak bola Indonesia bukanlah bagian dari rencana awal kariernya. Pemain berusia 38 tahun tersebut menyebut dirinya sempat berencana berhenti bermain sepak bola pada 2023. Rencana itu muncul setelah ia membela SPAL di Serie B Italia, kompetisi yang menjadi salah satu tahap terakhir dalam perjalanan kariernya di Italia.

Pada saat itu, Nainggolan melihat 2023 sebagai waktu untuk mengakhiri aktivitasnya sebagai pemain sepak bola. Ia tidak menyampaikan rencana lain di luar keputusan tersebut. Pengakuan itu menjadi konteks penting sebelum akhirnya namanya muncul dalam sepak bola Indonesia, khususnya setelah adanya undangan yang mengubah arah rencananya.

Perubahan tersebut bermula ketika Nainggolan mendapat undangan untuk menjadi duta Piala Dunia U-17 2023. Undangan itu datang dari Erick Thohir, yang disebut pernah menjabat sebagai presiden Inter Milan dan saat itu menjadi kepala federasi sepak bola Indonesia. Kesempatan tersebut kemudian membuat rencana Nainggolan untuk berhenti bermain pada 2023 tidak berjalan seperti semula. Dari sinilah keterlibatannya dengan sepak bola Indonesia mulai terbentuk, sebelum ia kemudian melanjutkan perjalanan sebagai pemain di kompetisi nasional. Pengakuan mengenai pilihan awal ini menunjukkan bahwa kehadirannya di Indonesia pada awalnya berangkat dari peran sebagai duta turnamen, bukan dari rencana untuk segera bergabung dengan sebuah klub. Ia semula telah menempatkan akhir karier setelah membela SPAL sebagai pilihan, lalu undangan dari Erick Thohir menjadi titik yang mengubah keputusan tersebut.

Sebelum menerima tawaran untuk bermain di Indonesia, Radja Nainggolan terlebih dahulu memiliki pengalaman singkat namun berkesan selama kurang lebih dua minggu di negara ini. Dalam kunjungan tersebut, ia tidak hanya berada di satu tempat, melainkan menyempatkan diri mendatangi sejumlah kota. Jakarta menjadi salah satu tujuan awalnya, kemudian perjalanan berlanjut ke Bandung, Solo, dan Surabaya. Rangkaian kunjungan itu membuatnya memperoleh gambaran yang lebih dekat mengenai kehidupan sosial dan suasana masyarakat Indonesia.

Radja mengaku menikmati waktu yang dihabiskannya selama berada di berbagai kota tersebut. Ia melihat masyarakat Indonesia sebagai komunitas yang ramah, terbuka, dan mudah memberikan sambutan hangat kepada pendatang. Interaksi dengan orang-orang yang ditemuinya menjadi bagian penting dari pengalamannya, terutama karena keramahan tersebut membuatnya merasa nyaman meski berada jauh dari lingkungan yang selama ini dikenalnya. Kesan positif itu turut membentuk pandangannya terhadap Indonesia, bukan hanya sebagai tempat untuk berlibur, tetapi juga sebagai negara yang memiliki lingkungan sosial menarik.

Perjalanan tersebut berlangsung sebelum muncul pembicaraan mengenai kemungkinan dirinya berkarier di kompetisi sepak bola Indonesia. Setelah masa kunjungan berakhir, Radja sempat berada dalam situasi yang belum pasti. Ia belum mengetahui ke mana langkah berikutnya akan membawanya, termasuk pilihan terkait karier sepak bolanya. Dalam kondisi tersebut, sebuah telepon kemudian mengubah arah pertimbangannya. Panggilan itu berisi pertanyaan mengenai kesediaannya untuk bermain dan melanjutkan karier di Indonesia.

Pengalaman selama berada di Jakarta, Bandung, Solo, dan Surabaya menjadi bekal emosional yang membuat tawaran tersebut lebih mudah dipertimbangkan. Ia sudah memiliki kesan awal yang baik terhadap masyarakat serta suasana di Indonesia. Karena itu, ketika peluang untuk bergabung dengan klub Tanah Air datang, keputusan tersebut tidak sepenuhnya terasa asing. Kunjungan sebelumnya membantu membuka perspektif baru bagi Radja, sekaligus menjadi pengantar sebelum ia mengambil langkah untuk menerima kesempatan berkarier bersama Bhayangkara FC.

Ketika peluang untuk bermain di Indonesia datang, Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa pilihannya sejak awal sebenarnya cukup terbatas. Ia hanya tertarik membela Persija Jakarta atau Bali United, dua klub yang berada dalam daftar pertimbangannya. Keinginan tersebut menunjukkan bahwa Bhayangkara FC bukan tujuan pertama yang sejak awal ia targetkan dalam rencana melanjutkan karier di sepak bola Indonesia.

Radja tidak datang dengan niat khusus untuk bergabung dengan Bhayangkara FC. Ketertarikannya mula-mula tertuju kepada Persija Jakarta atau Bali United. Namun, situasi kemudian berkembang ketika Bhayangkara FC disebut membutuhkan jasanya. Kebutuhan klub tersebut membuka peluang baru bagi pemain asal Belgia itu untuk mempertimbangkan pilihan yang sebelumnya tidak menjadi prioritas.

Dalam prosesnya, perubahan arah tersebut tidak serta-merta berarti Radja mengabaikan pilihan awalnya. Ia melihat kesempatan bersama Bhayangkara FC sebagai tantangan yang dapat diambil. Setelah mempertimbangkan keadaan yang ada, ia bersedia menerima tantangan itu dan melanjutkan kariernya bersama klub tersebut. Keputusan tersebut akhirnya membawanya ke Bhayangkara FC, yang dalam bahan sumber dikenal sebagai tim polisi negara.

Perpindahan minat Radja berlangsung secara bertahap, dari ketertarikan awal terhadap Persija Jakarta dan Bali United menuju kesediaan membela Bhayangkara FC. Urutannya bermula dari pilihan pribadi, kemudian berlanjut pada kebutuhan klub, sebelum akhirnya menghasilkan keputusan untuk menerima tantangan baru. Dengan demikian, bergabungnya Radja bersama Bhayangkara FC bukanlah target yang telah ditetapkan sejak awal, melainkan hasil dari peluang dan situasi yang berkembang dalam proses pencarian klub di Indonesia.

Radja Nainggolan mengungkapkan bahwa dirinya menerima bayaran sekitar 400.000 euro selama enam bulan memperkuat Bhayangkara FC. Nilai tersebut disebut setara dengan kurang lebih Rp8 miliar. Angka itu menjadi salah satu bagian penting dari pengalamannya bermain di Indonesia, terutama karena penghasilan tersebut lebih besar dibandingkan bayaran yang ia dapatkan ketika masih membela SPAL di Italia.

Menurut Radja, perbandingan itu tidak hanya berkaitan dengan nominal kontrak, tetapi juga dengan biaya hidup di negara tempat ia bermain. Biaya kebutuhan sehari-hari di Indonesia, katanya, membuat bayaran yang diterima terasa lebih tinggi dibandingkan penghasilannya sebelumnya di Italia. Ia memberikan gambaran melalui harga makanan. Sepiring besar nasi goreng, misalnya, dapat dibeli dengan harga sekitar dua euro atau kurang lebih Rp40 ribu. Dengan tingkat pengeluaran seperti itu, nilai kontrak yang diterimanya dianggap memiliki daya beli yang lebih besar.

Keterangan tersebut memperlihatkan alasan finansial turut menjadi pertimbangan dalam pengalaman singkat Radja bersama Bhayangkara FC. Ia datang dengan reputasi sebagai pemain berpengalaman dari sepak bola Eropa dan menjalani masa kerja selama setengah tahun. Namun, kebersamaan itu berakhir setelah Bhayangkara FC terdegradasi pada akhir musim. Radja kemudian meninggalkan klub tersebut dan melanjutkan kariernya di Eropa.

Setelah berpisah dari Bhayangkara FC, Radja Nainggolan membela Lokeren-Temse, klub yang berkompetisi di kasta kedua Liga Belgia. Pada musim ini, ia bermain untuk Patro Eisden, yang juga berlaga di kasta kedua Belgia. Perjalanan tersebut menunjukkan bahwa periode bermain di Indonesia menjadi salah satu tahap dalam kariernya, sebelum kembali tampil di kompetisi sepak bola Belgia.