Sewa Ruang di Trump Tower hingga Perebutan Kursi Presiden FIFA

Sewa Ruang di Trump Tower hingga Perebutan Kursi Presiden FIFA

Jakarta | FIFA dilaporkan mengalokasikan US juta, atau sekitar Rp66 miliar, untuk menyewa sebuah ruang di Trump Tower, New York, Amerika Serikat. Perjanjian sewa tersebut berlangsung selama tujuh tahun. Informasi mengenai nilai dan durasi kontrak itu bersumber dari dokumen yang diperoleh media Prancis Le Monde dan The New York Times.

Ruang yang disewa FIFA memiliki luas hampir 5.000 kaki persegi, atau sekitar 465 meter persegi. Ukuran tersebut mencakup area yang dirancang untuk menampung kegiatan berskala khusus, bukan sekadar ruang kerja biasa. Berdasarkan dokumen yang diberitakan kedua media tersebut, tempat itu akan digunakan sebagai lokasi penyelenggaraan berbagai acara khusus FIFA di New York.

Penggunaan ruang di Trump Tower perlu dibedakan dari kantor operasional harian organisasi sepak bola dunia tersebut. Ruangan di New York itu bukan kantor utama untuk menjalankan aktivitas sehari-hari FIFA. Kegiatan operasional rutin FIFA berlangsung di Florida, sehingga lokasi di Trump Tower memiliki fungsi yang lebih spesifik sebagai tempat acara.

Dokumen yang menjadi sumber laporan tersebut menggambarkan adanya komitmen sewa jangka panjang untuk ruang acara di salah satu gedung terkenal New York. Nilai kontrak, luas ruangan, serta kegunaannya menjadi bagian utama dari informasi yang terungkap. Dengan demikian, pemberitaan ini berfokus pada penyewaan fasilitas untuk kegiatan khusus, sementara pusat aktivitas operasional FIFA tetap berada di Florida.

Fasilitas yang disewa di Trump Tower digunakan dalam rangkaian kegiatan Presiden FIFA Gianni Infantino ketika ia berada di New York. Kehadiran tersebut berlangsung bertepatan dengan agenda sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yang mempertemukan para pemimpin dan pejabat tinggi dari berbagai negara. Dalam konteks itu, ruang di gedung tersebut menjadi bagian dari kebutuhan operasional selama pelaksanaan sejumlah pertemuan dan aktivitas resmi FIFA.

Selama berada di New York, Infantino juga menjalani agenda diplomatik dengan bertemu sejumlah pemimpin dunia. Di tokoh yang ditemuinya adalah Presiden Kenya William Ruto dan Perdana Menteri Bhutan Tshering Tobgay. Pertemuan tersebut berlangsung di tengah padatnya rangkaian kegiatan internasional yang menyertai sidang Majelis Umum PBB. Aktivitas itu menunjukkan bahwa kunjungan Infantino tidak hanya berkaitan dengan urusan internal sepak bola, tetapi juga mencakup komunikasi dengan para pemimpin negara serta pemangku kepentingan internasional.

Setelah menyelesaikan agenda di New York, Infantino melanjutkan perjalanan ke kawasan Karibia. Dalam perjalanan tersebut, ia menyaksikan pertandingan Concacaf Nations League di beberapa lokasi, yakni Jamaika, Kepulauan Virgin Britania Raya, Antigua dan Barbuda, serta Saint Kitts dan Nevis. Kehadirannya di berbagai pertandingan itu menjadi bagian dari keterlibatan FIFA dalam memantau perkembangan sepak bola regional sekaligus menjaga hubungan dengan federasi dan komunitas sepak bola di kawasan tersebut.

FIFA menyatakan bahwa perjanjian sewa fasilitas di Trump Tower ditandatangani melalui prosedur internal standar organisasi. Pernyataan itu menegaskan bahwa proses tersebut mengikuti mekanisme administratif yang berlaku di lingkungan FIFA. Penjelasan resmi tersebut disampaikan untuk menerangkan tata cara pengadaan dan penggunaan ruang, tanpa mengubah makna pernyataan organisasi mengenai keberadaan fasilitas tersebut selama agenda internasional Infantino.

Penyewaan ruang di Trump Tower menjadi perhatian publik karena berlangsung di tengah hubungan yang dikenal dekat Gianni Infantino, Presiden FIFA, dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Keputusan tersebut dipandang menarik bukan semata-mata karena lokasi kantornya, melainkan juga karena adanya hubungan personal dan politik yang telah beberapa kali terlihat dalam berbagai kesempatan resmi. Meski demikian, sorotan itu tidak secara otomatis membuktikan bahwa kedekatan keduanya menjadi penyebab langsung keputusan penyewaan ruang. Informasi yang tersedia hanya menunjukkan adanya konteks hubungan yang membuat langkah tersebut diperhatikan oleh publik dan media.

Hubungan Infantino dan Trump sebelumnya juga tampak dalam sejumlah agenda yang berkaitan dengan sepak bola internasional. Salah satu contoh yang disebutkan adalah pengundian Piala Dunia 2026 yang diselenggarakan di Kennedy Center, Washington, DC. Lembaga budaya tersebut dipimpin oleh Trump sejak 2025, sehingga pemilihan tempat itu turut menjadi bagian dari perhatian terhadap kedekatan pejabat FIFA dan presiden Amerika Serikat tersebut. Pengundian itu bukan sekadar agenda teknis menjelang turnamen, tetapi juga menjadi acara yang mempertemukan sejumlah tokoh olahraga dan politik di panggung publik.

Dalam acara yang sama, Infantino memberikan FIFA Peace Prize, atau penghargaan perdamaian FIFA, edisi perdana kepada Trump. Pemberian penghargaan tersebut memperkuat perhatian terhadap hubungan keduanya, terutama karena dilakukan dalam forum resmi yang berkaitan langsung dengan persiapan Piala Dunia 2026. Namun, fakta itu tetap perlu dipisahkan dari penilaian mengenai penyewaan kantor di Trump Tower. Penghargaan, lokasi pengundian, dan hubungan personal dapat disebut sebagai latar yang menjelaskan mengapa keputusan tersebut disorot, tetapi tidak cukup untuk menyimpulkan adanya hubungan sebab-akibat. Penilaian mengenai keputusan penyewaan ruang tetap memerlukan informasi tambahan mengenai pertimbangan operasional, komersial, dan kelembagaan yang mendasarinya.

Posisi Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden FIFA yang dijadwalkan berlangsung dalam Kongres FIFA pada Maret mendatang masih menjadi perhatian utama. Sebelumnya, presiden FIFA tersebut dinilai memiliki posisi yang kuat dan diperkirakan dapat mempertahankan kepemimpinannya setidaknya hingga final Piala Dunia 2026. Namun, prospek itu sempat dipertanyakan setelah muncul rencana membuka ruang bagi investasi swasta dalam pengelolaan kompetisi FIFA.

Gagasan tersebut memungkinkan investor memperoleh kendali atas sebagian aspek Piala Dunia dan turnamen FIFA lainnya. Rencana itu memicu kekhawatiran mengenai arah tata kelola sepak bola dunia serta keberlanjutan kepemimpinan Infantino. Setelah usulan investasi tersebut ditarik, dukungan terhadap Infantino disebut mulai menguat kembali. Perubahan itu membuat peta persaingan menuju kongres mendatang tampak lebih menguntungkan bagi petahana.

Hingga kini, mantan pemain bertahan Swiss, Ramon Vega, menjadi satu-satunya kandidat yang secara resmi menyatakan niat untuk menantang Infantino. Vega masih memiliki waktu hingga 18 November untuk mengumpulkan dukungan resmi dari sedikitnya lima asosiasi anggota FIFA sebagai syarat pencalonan. Ketentuan tersebut menjadi tahap penting, mengingat FIFA memiliki 211 asosiasi anggota yang tersebar di berbagai konfederasi.

Dukungan paling jelas bagi Infantino datang dari Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Dalam pertemuan di Cape Verde pada pekan sebelumnya, presiden CAF menyatakan bahwa 54 asosiasi anggota konfederasi tersebut berencana mendukung pencalonan kembali Infantino. Pernyataan itu memberikan sinyal politik yang kuat menjelang proses pemilihan, sekaligus menunjukkan bahwa jaringan dukungan petahana masih luas. Meski demikian, dinamika pencalonan belum sepenuhnya selesai sampai batas waktu pengumpulan dukungan kandidat berakhir.

Baca juga: Tembus Kegelapan Malam, Prajurit Lanud Sjamsudin Noor Tetap Sigap dan Semangat Jaga Pompa Bantuan Presiden RI Untuk Suplai Air Pembahasan Gambut | Wapang TNI Hadiri Peresmian PLTS 100 GWp Tahap Pertama Oleh Presiden RI | Menembus Langit Banua, Hercules TNI AU Bawa Bantuan Presiden RI untuk Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan